Selasa, 16 Januari 2018

THE RIGHT MAN IN THE RIGHT TIME - Ree Suwandi


PROLOG


Tiga undangan walimah kuterima hari ini, dari teman satu organisasi, rekan kerja di kantor, dan dari pernghuni apartemen sebelah. Sabtu dan Ahad ini sudah dapat dipastikan aku akan kembali menjadi bulan-bulanan kenalanku di acara tersebut.
Mereka selalu saja menanyakan hal yang sama padaku, setiap aku menghadiri acara semacam itu,”KAPAN MENYUSUL?”.
Sedikit malu memang, karena sampai saat ini aku masih bertahan menyandang status ‘The Jones’. Meskipun sudah beberapa kali aku mencoba untuk menemukan sosok pasangan yang akan kujadikan teman sepanjang hidupku kelak.
Tapi apa daya, semua yang kulakukan itu hanyalah sebatas usaha atau ikhtiar. Namun yang menentukan hasilnya tetaplah Sang Pemilik Takdir, dan sampai detik ini aku masih belum juga diketemukan dengan pemilik tulang rusuk yang ada pada diriku.
Dengan seiring berjalannya waktu, niat untuk terus berusaha perlahan mulai memudar, dan parahnya keinginan untuk menikah pun sedikit mulai terlupakan dalam benakku. Akan tetapi setelah beberapa bulan belakangan ini, aku selalu mendapatkan undangan walimah. Jadi sepertinya aku harus mulai lagi memasukan harapan untuk dapat segera bertemu dengan calon imamku ke dalam list do’a yang akan kupanjatkan di sepertiga malam-malamku.
Mencoba menjadi pribadi yang kuat, sabar dan selalu ikhlas dalam masa penantian ini. Juga berusaha untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan memperkaya khasanah ilmu tentangnya, agar kelak benar-benar siap jika Allah Ta’alla berkenan mempertemukanku dengan pangeran hati. *Fizria Syahputri.


***

SATU

BAD MOOD MODE-ON


“Mba Zia, besok dateng ke resepsinya Wulan sama siapa?” Sinta- rekan satu devisi di kantor itu bertanya, saat kami sedang menikmati makan siang di kantin bersama dua rekan lainnya.
Salah satu karyawan ditempatku bekerja yang bernama Wulan memang Ahad esok akan mengadakan acara walimah, dan tentu saja kami semua sebagai sesama rekan kerjanya turut diundang pada acara tersebut.
“Kenapa memang Sin?” balasku.
“Kalau Mba nggak keberatan aku mau ngajak Mba pergi bareng,” sahut Sinta.
“Kenapa nggak pergi sama suamimu seperti biasanya Sin?” kali ini Mila- rekanku lainnya yang menyahut. Sinta memang sudah menikah setahun yang lalu, meski ia jauh lebih muda empat tahun dariku. Sedangkan Mila usianya setahun lebih tua dariku, ia seorang single parent setelah perceraiannya dua tahun lalu.
“Suami aku lagi di luar kota Mba Mila, jum’at depan baru pulang” lanjut Sinta menjelaskan,
“Iya boleh kok, insya Allah besok aku jemput kamu” ucapku seraya menyendokkan makanan ke dalam mulutku.
“Kalian jam berapa kesananya? Janjian yuk, biar bisa bareng ketemuan disananya” Mba Yuni, manager pemasaran atasan kami ikut bersuara.
Meski beliau memiliki jabatan tinggi, tapi jika sedang berkumpul begini kami semua akan menjadi akrab, layaknya teman. Usia beliau baru tigapuluhan, jadi kami semua masih terlihat seumuran.
“Setelah shalat Dzuhur gimana, Mba?” usul Sinta.
“Undangannya dari jam sebelas siang sampai jam enam sore kan?” tanya Mba Mila.
“Iya Mba, gimana? Hitung-hitung jam makan siang Mba ke tempat acaranya” Sinta meminta persetujuan usulannya tadi.
“Ok ba’da Dzuhur aku kerumahmu, Sin” sahutku.
“Ok deh, jadi habis Dzuhur kita kesana, tapi diusahakan jam satu sudah ada disana ya?” Mba Yuni kembali menimpali.
“Iya Mba,” sahutku dan Mila bersamaan, sedangkan Sinta hanya mengangguk tanda setuju.
“Jadi Mba Zia nanti sebelum jemput aku bisa BBM-an dulu, biar aku bisa siap-siap sebelumnya,” ucapnya kemudian.
“Iya insya Allah,” balasku singkat setelah menelan makanan yang ada di mulutku.
“Jangan sampe nggak dijemput lho Mba, aku kan nggak bisa nyetir, biar dirumah ada mobil punya suami, dan lagi aku males banget ke undangan naik taksi, sendirian lagi” tambahnya.
“Iya Sin, kamu tenang aja,”.
“Bulan ini banyak banget yang nikahan ya?” Mba Mila melanjutkan obrolan disela waktu menikmati santap siang kami.
“Iya Mba, hampir setiap bulan belakangan ini aku juga selalu mendapat undangan walimah, mungkin lagi musimnya...” jawab Sinta. Sebenarnya topik pembicaraan ini membuatku sedikit kurang nyaman, dan tentu saja alasannya sudah jelas.
“Memang cuma di Indonesia deh, negara yang punya musim paling banyak diantara negara-negara lain di dunia,” lanjut Mba Mila.
“Iya Mba, ada musim duren, musim rambutan, musim banjir, musim kawin, bahkan ada juga musim cerai, seperti artis-artis kita..” celetuk Sinta yang disambut senyuman oleh semua yang ada dimeja kami, termasuk aku.
“Di meja ini masih ada satu jomblo ya, kapan nih undangannya?” Mba Yuni mulai menyindirku jika topik tentang masalah perkawinan sudah terangkat ke permukaan.
“Belum ketemu jodohnya Mba,” jawabku klise.
“Zia mau aku carikan?” Mba Mila ikut mengodaku.
“Kalau aku terserah bagaimana keputusan Sang Pemilik Takdir sih? Masalah jodoh kan sudah ada yang mengatur,” jawabku lagi dengan nafsu makan yang tiba-tiba menghilang.
“Atau Mba mau aku kenalin lagi dengan teman suamiku? Bukankah jodoh juga musti dicari Mba?” lanjut Sinta lagi-lagi membuat moodku semakin memburuk. Wanita itu memang pernah sekali mencoba mengenalkanku dengan sahabat suaminya, tapi aku sama sekali tidak berminat. Bukannya aku sombong atau apa, tapi memang aku tidak terlalu suka berbasa basi dengan lawan jenis.
Sejak zaman di sekolah dulu, aku memang sangat membatasi pergaulanku dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki. Karena Abah telah menanamkan pondasi pendidikan agama pada anak-anaknya, agar selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alla.
Jadi aku juga saudaraku yang lainnya sudah mengerti, kami berusaha tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai atau dilarang oleh-Nya. Dan berkhalwat merupakan salah satu perkara yang diharamkan dalam syariat agama kami.
“Mba Zia,” panggilan yang disertai tepukan pelan Sinta dilenganku sedikit mengejutkan. “Mba melamun ya?” lanjutnya.
“Eh sorry Sin, sudah pada selesaikan makannya? Kita balik yuk...” sahutku yang sejenak tadi sempat terbuai oleh lamunan.
“Tapi makanan punya Mba belum habis!”.
Aku beranjak dari tempat dudukku sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku sudah kenyang Sin, yuk langsung balik keatas aja,” ajakku pada mereka semua. Setelah melirik kearah piring-piring lainnya, memang hanya piringku yang isinya masih setengah. Tapi aku sudah benar-benar tidak berselera lagi untuk menghabiskannya.
Setelah melihat aku mulai bangkit, mereka bertiga pun akhirnya ikut mengekor tindakanku. Lalu kami semua menuju ke arah lift yang akan membawa kami kembali ke tempat kerja.
Kantor kami memang terletak di lantai delapan gedung tersebut, sedangkan kantin tempat kami makan siang adanya di lantai dasar. Bangunan perkantorannya sendiri memiliki limabelas lantai, dengan ratusan ruangan dan ditempati oleh beberapa perusahaan yang sengaja menyewanya, seperti halnya perusahaan tempat kami bekerja.
Dan setelah sampai di meja kerjaku, aku merasa sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pekerjaan yaitu memeriksa laporan yang aku tinggalkan sebelum makan siang tadi. Pembicaraan di kantin itu, benar-benar telah membuat aku dalam kondisi bad mood mode-on yang parah.

***

Sabtu, 13 Januari 2018

CERPEN - SESAL



SESAL


“Ketika seorang wanita telah berputus asa, hatinya diibaratkan seperti daun pintu. Sehingga setiap orang yang datang menghampirinya bisa mengerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan sesuka hati...”

            Januari Putra Mandala sebenarnya belum ingin menikah. Laki-laki yang akrab disapa Ari itu merasa sangat nyaman menjalani kehidupan seorang lajang. Bebas tanpa ikatan dan tidak harus dipusingkan dengan segala macam permasalahan antar pasangan.
Apa Ari tidak menyukai wanita? Jawabannya tentu tidak. Ari sangat memuja kaum hawa, hanya saja Ari tidak pernah menjalin satu hubungan serius dengan mereka. Baginya  wanita hanya sekedar hiburan diwaktu sengang. Apalagi dengan wajah tampan yang ia miliki, banyak sekali wanita yang terjerat pesonanya. Sampai-sampai mereka dengan sukarela melemparkan diri ke pangkuannya, meski mereka tahu bahwa Ari hanya mengambil manfaat untuk dirinya saja.
Tapi permintaan sang nenek untuk segera memiliki pendamping, membuat Ari tak kuasa menolak. Bagi Ari, nenek Mariyam adalah segalanya. Sebab sejak kehilangan kedua orangtuanya, beliaulah yang setia disampingnya. Mariyam menjaga dan mengasuh Ari dengan segenap cinta yang ia miliki, bahkan cenderung terlalu memanjakannya. Karena memang Ari juga merupakan satu-satunya cucu yang ia punya dari mendiang putranya.
Awalnya Ari sempat menolak, setiap kali Mariyam menyodorkan foto gadis-gadis yang dibawa Madam Lisa- mak comblang yang diminta sang nenek mencarikan gadis yang cocok untuknya. Dengan alasan ia masih sanggup untuk mencari calon istri sendiri. Tapi entah mengapa, setelah ia melihat satu foto yang diletakan ditangannya. Sosok gadis berhijab yang memiliki wajah ayu khas mojang priangan bernama Mayang Sasmitha hatinya terusik.
Ada getaran aneh yang ia rasakan saat menatap wajah gadis dalam foto itu, hingga  Ari pun menyatakan ketertarikan pada Mayang pada sang nenek. Tentu saja Mariyam sangat gembira, lalu beliau pun mengutus Lisa untuk segera menghubungi keluarga gadis tersebut, untuk menyampaikan niat baiknya. Dan gayung pun bersambut, kedua orangtua Mayang ternyata juga sangat ingin putri tunggalnya segera menikah.
Sampai tibalah hari dimana Ari bersama Mariyam datang berkunjung ke rumah keluarga Mayang. Mereka disambut hangat oleh kedua orangtua si gadis. Keduanya sangat bahagia dan merasa terhormat dengan kedatangan Ari dan neneknya, sebab sudah sejak lama orangtua Mayang mengharapkan kehadiran seseorang yang akan meminang anak gadis mereka.
Bagaimana tidak? Saat ini usia Mayang sudah memasuki kepala tiga, dan masih berstatus singel. Padahal sudah banyak laki-laki yang datang pada mereka, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menyunting putri semata wayang mereka. Hanya karena Mayang berpendidikan tinggi, mapan dan terlalu mandiri. Ia berprofesi sebagai seorang pengacara yang sibuk, hingga dianggap kurang cocok untuk dijadikan istri yang penurut pada suami. Alasan yang sedikit aneh dan tidak masuk akal!
Jadi sebelum kedatangan Mariyam dan Januari, Sasmitha Nugraha- ayah Mayang sudah mewanti-wanti anak gadisnya untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang akan membuat calon peminang kali ini ‘kabur. Sampai-sampai saat berada di ruang tamu Mayang langsung menjadi pendiam, ia seolah terasing di dalam rumahnya sendiri. Sangat memprihatinkan, karena beban perasaan yang ditanggungnya.
Dan walau Mayang juga tidak banyak mengangkat kepalanya, tapi lemparan pandang yang sesekali dilakukannya cukup memberitahu bahwa Januari sedang melihat, meneliti dan menilai dirinya. Tatapan mata laki-laki itu sangat tajam dengan penuh ketakjuban, terpesona paras ayu calon wanitanya.
Sampai akhirnya kedua orangtua Mayang mengajak Mariyam menuju ke ruang keluarga untuk memberikan keluasan waktu dan kebebasan bagi keduanya. Barulah Ari memulai sesi tanya jawabnya, setelah di ruangan itu hanya tertinggal mereka berdua. Ia banyak mengarahkan percakapan, sebab gadis di depannya terlihat sangat pendiam. Ari pun bertanya seputar hal-hal kecil seperti hobi, makanan favorit, dan sejenisnya yang selalu dijawab dengan singkat oleh Mayang.
Sampai ia merasa lelah dan sedikit kesal. Mungkin juga kehabisan materi pembicaraan. Hingga akhirnya Ari pun berkata, “Apa kamu tidak ingin bertanya atau menghetahui sesuatu tentang aku?” dan Mayang hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Oh tidak! Please Yang, tanyalah atau ucapkanlah sesuatu atas inisiatifmu sendiri. Aku benar-benar ingin mengenalmu, sebab sudah kuputuskan kamulah gadis yang aku pilih dan mau kujadikan pendamping hidup...” Ari sedikit memaksa.
Dan ia sengaja menggunakan panggilan ‘Yang untuk menarik perhatian Mayang meski ia tahu gadis itu biasa disapa May. Tapi bukan seorang Januari kalau tidak bisa membuat hati wanita melayang.
Mayang berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku hanya ingin memberitahumu kalau usiaku lebih tua darimu, jadi apa kau masih mau denganku?” ucapnya pelan dan sangat hati-hati.
“Aku sudah tahu, itu bukan masalah. Hanya tiga tahun, jangan dipikirkan. Kamu itu baby face, Sayang. Karena itu aku langsung falling in love sama kamu, meski hanya melihat fotomu” Ari menjawab sambil tersenyum mengoda.
“Oh iya, apa kamu tidak keberatan tentang pekerjaanku? Maksudku... kamu tau, aku seorang businessman yang sering berpergian ke luar negeri?” lanjut Ari bertanya yang disambut gelengan kepala lagi.
“Kenapa aku harus keberatan? Itu profesimu dan aku menghormati apa yang kau lakukan” ucap Mayang kemudian.
Mendengar itu Januari kembali tersenyum seraya meraih tangan Mayang dan mengecupnya lembut. “Sepertinya aku tidak salah memilihmu, Sayang. Kamu pasti akan menjadi istri yang sangat pengertian” pujinya. 
Dan Mayang pun akhirnya mulai merasakan ketertarikan juga pada sosok laki-laki tampan itu, meski pada awal pertemuan tadi ia sangat pesimis akan keberhasilan hubungan diantara mereka. Sebab ia sudah sering kali menelan kekecewaan dengan proses perkenalan yang dijalaninya.
Terlebih saat mereka tahu apa pekerjaannya pada tahap penjajakan, itu yang sering membuat para lelaki di dekatnya perlahan menjauh. Tapi bukankah suatu hubungan memang harus didasari oleh kejujuran? Ia tidak berniat menyembunyikan sesuatu apapun dari laki-laki yang ingin meminangnya, walau konsekuensi terburuknya ia akan gagal menikah lagi. Sebab kebanyakan laki-laki tidak menginginkan seorang istri yang dianggap terlalu pintar dan mandiri melebihi dirinya sendiri.
Dan untuk menghetahui apakah Ari akan bersikap sama seperti laki-laki dimasa lalunya atau tidak, Mayang pun memutuskan untuk memberitahukan profesinya saat itu juga. Ia tidak ingin menunda-nunda seperti yang dipesankan ayahnya, sebab menurutnya hal itu akan sama saja. Cepat atau lambat calon suaminya akan tahu kalau ia seorang pengacara yang telah memiliki firma hukum sendiri.
Jadi Mayang pun memberanikan diri bertanya pada Ari. “Apa kau juga sudah tau tentang pekerjaanku?”.
“Madam Lisa mengatakan kamu seorang pengacara. Apa itu tidak benar?” Mayang cukup terkejut dengan jawaban Januari, sebab awalnya ia khawatir kalau pertanyaan itu akan mengecewakan Ari dan membuatnya pergi.
“Jadi kau tidak masalah dengan itu?” lanjut Mayang lagi..
Ari pun mengangguk, “Aku suka dengan perempuan yang pintar dan mandiri, jadi aku tidak keberatan mempunyai istri yang bekerja. Malah aku akan bangga karena memiliki pasangan seorang pengacara yang sukses...” dan perkataan Januari itu langsung membuat Mayang tersenyum.
Perempuan tersebut benar-benar merasa lega, seolah beban berat di pundaknya telah terangkat. Segala kecemasan yang dirasakan sebelumnya tiba-tiba menghilang, dengan penerimaan Ari soal pekerjaannya.
***
Setelah perkenalannya dengan Januari hari itu, ponsel Mayang kini lebih sering berdering. Dalam sehari, Ari bisa menghubunginya sampai puluhan kali. Dimulai waktu Mayang bangun tidur sebagai pembuka hari, sampai menjelang saat ia akan berangkat bekerja. Berlanjut disela waktu kerjanya, hingga percakapan panjang yang mereka lakukan dimalam hari untuk menutup hari. Bahkan dilarut malam, sesekali pria itu masih mengusiknya dengan obrolan omong kosong sebagai lagu penghantar tidur Mayang.
Hari-hari Mayang belakangan ini selalu diwarnai kebahagiaan. Sebab Januari tidak hanya menunjukan rasa cintanya melalui lisannya saja, namun laki-laki itu mulai sering datang berkunjung ke kantor Mayang. Mengajak makan siang berdua, atau sekedar menjemput dan menghantarnya pulang. Selain itu Ari pun hampir setiap hari mengiriminya buket bunga mawar merah untuk mewakili perasaannya pada wanita itu.
Sikap Ari itu sering membuat rekan-rekan kerjanya merasa iri, terlebih sahabatnya- Delia yang juga merupakan salah satu pendiri firma hukum mereka. Delia mengatakan Mayang adalah wanita yang sangat beruntung memiliki calon suami yang begitu perhatian dan juga tampan.
“Andai saja suamiku juga bisa bersikap romantis seperti Ari-mu itu, May” curhat Delia satu hari usai melihat sahabatnya lagi-lagi menerima kiriman buket bunga favoritnya.
“Tapi bukankah Doni selalu memasak untukmu, Del?” balas Mayang seraya menyebut nama suami sahabatnya.
“Iya itu karena dia memang seorang chef, jadi masakannya yang lebih enak dinikmati daripada hasil ekperimenku yang selalu gagal”.
“Tapi bisa jadi itu cara Doni menunjukan cintanya, Del. Setiap orang kan punya cara sendiri dan berbeda satu sama lainnya” lanjut Mayang.
“Ah, sudahlah... Kau memang beruntung May, aku do’akan semoga kalian benar-benar bisa menjadi pasangan nanti. Tapi ingat! Kau juga harus tetap berhati-hati, sebab biasanya pria tampan itu seorang womanizer”.
Dan tidak terasa sampailah kini, ikatan perjodohan Mayang dan Januari diresmikan. Tepatnya setelah hampir sebulan masa pendekatan, mereka berdua menyelenggarakan pesta pertunangan mewah. Acara tersebut diadakan di salah satu hotel bintang lima di kota, dengan mengandeng sebuah party organizers ternama sebagai penanggung jawab.
Mayang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun desainer lengkap dengan hijab yang diatur sedemikian rupa, begitu juga Ari yang tampak gagah dengan setelannya yang di pesan khusus. Pesta tersebut memang tidak dihadiri banyak tamu, sebab hanya keluarga dan kerabat dekat keduanya saja yang diundang. Tapi meski begitu tidak mengurangi kebahagiaan yang terpancar dari wajah Mayang bersama kedua orangtuanya, begitu juga Mariyam yang selalu menyungingkan senyumannya. Karena mereka sudah sangat lama menantikan datangnya moment bahagia tersebut.
“Nenek sudah tidak sabar menyaksikan pesta pernikahan kalian nanti...” ujarnya saat menghampiri kedua bintang acara malam itu.
“Itu tidak lama lagi, Nek” balas Januari seraya mengenggam tangan tunangannya.
“Apa kalian benar-benar tidak bisa mempercepatnya jadi bulan depan saja, Nak. Nenek sudah ingin cepat-cepat kalian menikah dan segera memberi aku cicit”.
“Tiga bulan tidak lama Nek, bersabarlah! Lagipula saat ini aku dan Mayang masih harus menyelesaikan pekerjaan kami dulu sebelum memutuskan cuti”.
Yah, pasangan itu memang baru akan meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan tiga bulan kedepan. Walau pihak keluarga sebenarnya ingin keduanya bisa langsung menyelenggarakan pernikahan tidak lama setelah acara pertunangan, namun keinginan tersebut harus pupus karena kesepakatan sang calon mempelai.
***
Waktu pun berlalu, tanpa terasa tinggal satu bulan lagi pasangan Januari dan Mayang akan mengikat janji suci mereka. Selama dua bulan ini, hubungan keduanya pun terlihat semakin dekat.
Sudah beberapa kali Mayang menginap di rumah Ari atas permintaan sang nenek. Begitu juga Januari yang juga terbiasa berada di kediaman orangtua Mayang. Bahkan sekarang Sasmitha telah benar-benar mempercayakan putri tunggalnya itu pada Januari. Pria itu mempelakukan Ari seolah-olah sudah menjadi menantunya, meski terkadang sikapnya mendapat pertentangan dari Wulan- istrinya.
“Apa Abah nggak terlalu berlebihan, ngasih izin Nak Ari menginap disini?” itu pendapat ibu Mayang saat suaminya tidak membiarkan tunangan putrinya pulang setelah acara makan malam di rumah mereka.
“Nggak apa-apa, Bu. Toh sebentar lagi mereka sudah mau menikah” jawab Sasmitha santai.
“Tapi Bah, Nak Ari itu belum jadi suaminya May. Gimana kalau terjadi sesuatu?” Wulan tetap bersikeras.
“Sudahlah Bu. Mereka berdua sudah dewasa, jadi pasti tau batasannya. Lagipula mereka kan tidak tidur dalam satu kamar!”.
“Iya Abah, tapi kamar tamu kan nggak jauh dengan kamarnya May...”.
“Kamu nggak usah berpikir yang bukan-bukan. Nak Ari itu laki-laki terhormat, jadi nggak mungkin macam-macam sama anak kita”.
Itulah perdebatan yang terjadi dua minggu yang lalu, dan Wulan tidak bisa berbuat apa-apa walau dalam hatinya terbersit kekhawatiran.
Dan malam ini, Ari kembali menginap di rumah tunangannya. Namun yang membedakan, kedua orangtua Mayang tidak berada disana. Sasmitha dan Wulan sedang menghadiri undangan kerabat mereka di Bogor. Meski saat meminta izin Wulan kembali menentang, tapi seperti sebelumnya ia tak kuasa melawan titah sang suami.
“Sayang, besok aku harus ke Dubai untuk mengurus bisnis, aku pasti akan sangat merindukanmu” ucap Ari saat keduanya sedang bersantai setelah makan malam sembari menonton film dari DVD.
“Tapi kau akan pulang sebelum hari pernikahan kita kan?” sahut Mayang yang bergelung manja disampingnya.
“Tentu Sayang, aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin. Lagipula sekarang aku sudah sangat ketergantungan berada didekatmu, Sayang” Ari membalas memeluk tunangannya.
Kemudian obrolan mereka pun berlanjut, diselingi canda-tawa, saling melempar rayuan dan tidak ketinggalan pembahasan tentang persiapan pernikahan keduanya. Hingga berkembang pada pengalaman Mayang merasakan ciuman pertamanya. Ari memang sudah terbiasa untuk mencium pipi kanan dan kiri tunangannya disetiap kesempatan, seiring kedekatan mereka setelah cincin pertunangan tersemat dijari Mayang.
Tetapi malam itu, Januari memberi wanita yang akan dinikahinya sebuah ciuman yang berbeda dan lebih hangat. Nampaknya mereka terbawa suasana romantis film yang sedang mereka tonton. Sampai-sampai keduanya tidak menyadari bahaya bisikan setan yang sedang mengancam mereka.
Hingga akhirnya Ari berhasil melakukan apa yang sangat dikehendaki laki-laki saat bersama seorang wanita tanpa adanya halangan sedikitpun. Meski pada awalnya Mayang sempat mengelak, akan tetapi godaan iblis ternyata lebih kuat. Ditambah lagi terbersit pikiran, bagaimana jika Ari akan marah dan membencinya kalau sampai ia menolak. Maka yang terjadi malam itu, terjadilah!
***
            Seminggu berlalu, tapi Mayang kehilangan kontak dengan Januari. Sebab setelah malam itu, keesokkan harinya Ari langsung pamit untuk melakukan perjalanan bisnis. Dan sejak saat itu ponsel Ari menjadi tidak aktif. Mayang juga telah mencoba menghubungi tunangannya dengan mengirim surel, tapi tidak satu pun yang dibalas.
            Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Mayang, bersamaan rasa cemas, khawatir dan takut yang menghantuinya. ‘Apakah Ari baik-baik saja disana, tapi mengapa tidak memberinya kabar? Apakah ia sengaja mematikan ponselnya agar lebih berkonsentrasi dengan pekerjaannya? Apa yang sebenarnya terjadi di Dubai? Atau apakah Ari telah berubah pikiran, karena penyerahan dirinya pada malam itu? Apakah kejadian malam itu adalah sebuah kesalahan, sebab Ari sedang menguji dirinya? Dan ia gagal dalan ujian tersebut, sehingga Ari memutuskan untuk mengakhiri pertunangan mereka.’ Mayang benar-benar menjadi gila dengan semua kegundahannya, sebab ia tidak juga mendapat jawaban atas semua pertanyaan itu.
            Saat itu Mayang memang tidak menghubungi Mariyam, atau memberitahukan kekalutan hatinya pada kedua orangtuanya. Sebab mereka semua tahu bahwa laki-laki itu sedang berada di luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Dan sangat tidak mungkin bagi Mayang menceritakan apa yang sudah ia lakukan pada mereka, bahwa ia telah kehilangan kesuciannya.
            Yah, Mayang benar-benar binggung sebab ia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sekarang yang bisa ia dilakukan hanya menunggu sampai Ari pulang dan kembali menghubunginya. Tetapi sampai seminggu menjelang gelaran acara pernikahan mereka, ternyata Januari masih belum juga menunjukan dirinya.
Hingga kedua orangtuanya bertanya dimana keberadaan calon mempelai laki-laki, namun Mayang tidak bisa menjawab. Lalu sebuah email diterima, isinya tentang keputusan Ari membatalkan pernikahan mereka dan memutus tali pertunangannya dengan Mayang.
Sasmitha dan Wulan sangat terkejut dengan kabar tersebut, keduanya benar-benar tidak mengerti alasan dibalik keputusan pria yang sudah mereka anggap sebagai menantu tersebut.
Mengapa ia sampai hati berbuat seperti itu, dan mempermalukan keluarga mereka?
            Kemudian dengan amarah membara, keluarga Sasmitha mendatangi kediaman Mariyam untuk mencari jawaban. Tetapi ternyata disana pun mereka tidak dapat menemukan apapun, bahkan Mariyam juga merasa terkejut dan marah dengan apa yang disampaikan Sasmitha.
Namun dengan berbesar hati wanita tua itu tulus meminta maaf, atas perbuatan cucu kesayangannya. Meski dirinya juga harus menanggung malu akibat pembatalan pesta pernikahan yang sudah diambang pintu.
            Sementara Mayang hanya bisa menangis dan mengurung diri. Penyesalan mengerogoti batinnya, karena telah terpedaya oleh tipu daya dunia. Ia tidak menyangka takdir hidupnya demikian cepat berubah, hanya sekejap ia merasakan bahagia.
Indah yang diharap dapat berlangsung selamanya, namun ternyata kebahagian itu semu belaka. Mayang benar-benar hancur, rasa sesalnya tidak jua kunjung hilang bersama dengan rahasia yang harus ditutupnya rapat-rapat.
            Meski begitu jauh dilubuk hatinya, ia masih berharap mendapat penjelasan tentang apa yang telah menimpa dirinya. Mayang sangat ingin tahu apa yang menyebabkan Ari sampai hati berbuat sedemikian jahat padanya, walau itu akan membutuhkan waktu.
Entah sampai kapan ia harus menunggu kebenaran akan terungkap, dan segala pertanyaan akan menemukan jawabannya.


Wallahu A’lam. 

Jumat, 12 Januari 2018

JIWA YANG TERSESAT - Ree Suwandi


PROLOG

Seperti yang sudah direncanakan pada hari sabtu itu, Eve dan Hana pergi mengunjungi festival kembang api di Sungai Sumida*. Hana sengaja mengajak sahabatnya  merayakan malam musim panas untuk refresing dan menghirup udara luar, sebab sudah seminggu Eve hanya berada di rumah selama masa pemulihannya.
Suasana festival begitu ramai, ratusan orang terlihat memadati area sepanjang jalan di tepi sungai yang dipenuhi berbagai stand bazaar yang berderet rapi. Hiruk pikuk orang yang berlalu-lalang semakin membuat Eve merasa jengah. Memang sejak awal ia sudah tidak tertarik dengan rencana sahabatnya yang ingin menghadiri acara perayaan tahunan itu.
Telebih mereka harus mengenakan yukata* yang mengingatkan Eve pada kedua orangtuanya, sebab merekalah yang selalu membelikan pakaian itu sebagai hadiah di setiap tahun. Bahkan Eve sempat menolak, tapi lagi-lagi ia menyerah kalah dengan bujuk rayu yang digencarkan oleh sahabatnya. Jadi disinilah dia sekarang!
Meski sempat dilarang pada tahun 60-an sampai 70-an dengan alasan keselamatan, pertunjukan Hanabi Matsuri sudah kembali diadakan sejak tahun 1978 sampai sekarang. Acara tahunan yang diadakan setiap hari sabtu terakhir di bulan Juni itu memang selalu menjadi salah satu pemberi kesenangan bagi ratuan orang dari ribuan warga yang bermukim di Tokyo. Tapi tahun ini Eve benar-benar tidak dapat menikmati acara perayaan itu seperti tahun-tahun sebelumnya, lantaran adanya lubang kosong di hatinya.
“Eve lihat ada stand gipsy, ayo kita kesana!” Hana menarik sahabatnya menuju tenda peramal yang ada di festival. Gadis itu memang sangat terobsesi pada hal-hal yang berhubungan dengan ramalan.
Eve yang sudah uring-uringan sejak persiapan hang-out mereka hanya mengekor pasrah. Entah kenapa sejak seminggu lalu ia sangat mudah merasa lelah, padahal sejak pulang dari rumah sakit kerjanya hanya beristirahat di rumah.
Sesampai di tenda itu, Hana langsung mengajak Eve duduk didepan seorang wanita dengan dandanan ala gipsy yang menghadapi bola kristal. Stand itu tampak menyeramkan dengan hiasan ornamen-ornamen aneh bernuansa mistis yang terdapat dimana-mana. Ditambah aroma dupa yang menguar di penjuru ruang sempit berukuran tidak lebih dari 2x2 meter persegi itu, membuat Eve merasa gelisah. Tapi demi sahabatnya yang terlihat sangat antusias, gadis itu coba menahan perasaan tidak nyaman yang dirasakannya. Apalagi tiba-tiba ia juga mulai merasakan sakit di bagian kepalanya setelah berada dalam ruangan tersebut.
Irasshaimase! (Selamat datang!) Apa yang bisa aku bantu untuk kalian, Nona-nona?” sapa wanita itu. Suaranya berat dan terdengar parau, padahal wanita itu tidak terlalu tua. 
Obasan*, bisa tolong ramal masa depan kami?” balas Hana yang disambut anggukan kepala si peramal. Wanita tersebut kemudian mengeluarkan sepaket kartu tarot dari sebuah kotak ukiran, lalu menyusun kartu-kartu itu di atas meja.
“Konsentrasikan apa yang ingin kamu lihat, lalu tunjuk tiga kartu!” selanjutnya ia meminta Hana memilih kartunya yang langsung dipisahkan dari kartu-kartu lainnya.
Sebelum menjelaskan apa yang tersirat dari kartu pilihan Hana, wanita itu beralih pandang menatap ke arah Eve. Matanya lalu menyipit, mengamati Eve dengan sorot aneh. “Apa kalian berdua bersaudara?” tanya wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya.
Iie, watashi wa tomodachi? Nan desu ka? (Tidak, kami berteman? Memangnya kenapa?)”
Sou desu ka. (Begitu ya.) Ada yang tidak beres dengan dia? Tubuh sahabatmu dilingkupi aura gelap” ucap wanita peramal tersebut.
“Dia memang baru sembuh dari sakit, tapi sekarang Eve sudah baik-baik saja” jelas Hana ikut menatap sahabatnya.
“Bukan itu! Aku melihat ada sosok arwah yang bersemayam di tubuhnya, tampaknya seperti jiwa yang tersesat” perkataan si peramal benar-benar mengejutkan Hana. Bahkan gadis itu sempat tersingkap dan menggeser tubuh sedikit menjauh untuk lebih jelas meneliti tubuh sahabatnya.
Dan Eve yang sedari tadi diam pun merasa terganggu, lalu ikut buka suara. “Obasan, jangan asal bicara!”
“Itu benar, Nona. Ada jiwa yang tersesat dalam tubuhmu”
Usotsuki! (Pembohong!)” bentak Eve.
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Nona” bantah si peramal bersikeras.
“Hana, ayo kita pergi dari sini! Wanita itu hanya seorang pembohong yang berpura-pura menjadi peramal” Gadis itu naik darah dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Rasa sakit dikepalanya pun semakin menjadi sehingga ia sempat terhuyung.
“Eve, daijoubu? (Eve, apa kamu baik-baik saja?)” tanya Hana khawatir setelah ikut berdiri.
Un, ii desu ne! (Iya, ayo kita pergi!)”
“Percayalah! Kamu akan mengalami sesuatu yang berbahaya bersama sahabatmu itu. Aku bisa melihatnya dari kartu yang kamu pilih, Nona” peramal itu beralih menatap Hana, ia tetap bersikeras dengan pendapatnya.
“Omong kosong apa itu! Kamu bahkan tidak mengenalku, kenapa bisa mengatakan hal seperti itu. Kamu memang benar-benar pembohong” mata Eve terbakar amarah. Hana yang melihat itu semakin mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
“Sepertinya, apa yang dikatakan sahabat saya benar. Obasan tidak boleh sembarangan berkata seperti itu. Kami permisi, dan ini bayarannya” Hana meletakkan lembar 100 yen diatas meja, sebelum mengenggam tangan Eve dan membawanya keluar dari stand milik si peramal.
 Sebelum menjauh dari sana, mereka masih sempat mendengar suara bernada peringatan yang keluar dari mulut si peramal.
“Berhati-hatilah kalian berdua! Apa yang aku katakan itu benar!”
***
Sepulang dari festival, Eve masih terus terngiang ucapan wanita peramal yang mereka temui. Kini dalam posisi duduk di tepi tempat tidur sambil melepas yukata yang dikenakan, ia tampak tengah berpikir. Ia memang tidak percaya dengan apa yang didengarnya tentang arwah atau semacamnya yang diduga si peramal itu ada dalam tubuhnya. Tapi entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan dari lubuk hatinya untuk mempercayai perihal tersebut.
  Apakah memang makhluk tak kasat mata itu benar-benar ada di dunia ini? Karena selama ini ia tidak pernah percaya pada hal-hal semacam itu, menurutnya hantu, setan atau makhluk halus itu hanya sebatas cerita fiksi. Mereka hanya tokoh khayalan yang diciptakan dalam buku atau film oleh seorang penulis atau sutradara.
Bahkan selama ini ia tidak pernah sedikitpun tertarik pada buku juga film-film ber-genre horor, meski mereka sangat laris dipasaran dan menjadi trending topik di mana-mana. Bukan lantaran takut, namun lebih kepada keyakinan bahwa semua itu hanya cerita bualan semata, seperti contoh tokoh Sodako, Kayako, Ju-On dan teman-temannya yang sempat membuat dunia perfilman Jepang terkenal di seluruh dunia. Sedangkan favoritnya adalah fiksi karya ilmiah, biografi atau segala sesuatu yang berdasarkan fakta dan kehidupan nyata.
Tapi setelah diingat-ingat lagi! Semenjak ia tersadar dari koma akibat tindakan bodohnya, ia memang sempat merasakan ada yang aneh pada dirinya. Tapi bukankah itu hal yang wajar bagi seseorang yang baru mengalami tidur panjang.
Aahhh... semakin dipikirkan, kepalanya jadi semakin pusing. Eve segera beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat tidur. Tubuhnya sudah sangat-sangat lelah dan segera memerlukan  istirahat.
Namun saat sedang membasuh wajahnya di wastafel, tiba-tiba ia melihat pantulan sosok gadis berwajah pucat dengan rambut hitam panjang dari dalam cermin. Padahal jelas-jelas tidak ada siapapun di kamar mandi selain dirinya. Eve mengerjapkan matanya beberapa kali, ingin memastikan apa yang dilihatnya setelah membilas wajah.
Lagi-lagi ia tidak menemukan pantulan dirinya disana, melainkan wajah pucat seorang gadis tanpa ekspresi yang menatapnya intens. Eve pun tertegun sesaat, sampai akhirnya gambaran sosok gadis di dalam cermin itu berubah. Matanya tiba-tiba menghitam, lalu muncul aliran darah segar dari puncak kepala yang membanjiri wajah pucat tersebut bersamaan dengan gerak bibirnya yang mengucapkan kata...
Watashi o tasukete! (Tolong, aku!)”
Eve yang tersadar pun langsung berteriak histeris.
“AAAAAHH!!!!”
Lalu tubuhnya merosot jatuh terkulai dilantai kamar mandi. Gadis itu pingsan!

***
Glosarium.
Sungai Sumida (Jpn.) : sebuah distrik pemukiman tua dekat pusat kota Tokyo.
Yukata (Jpn.) : kimono musim panas

Obasan (Jpn.) : panggilan bibi untuk orang lain/yang tidak memiliki hubungan darah.

Senin, 06 Februari 2017

Novel "HATI YANG TERLUKA" Part 1



SATU

Indah bulan purnama mengantung dilangit, sepoi angin dari jendela kamar yang sengaja kubuka menerpa wajah. Pucuk-pucuk cemara dihalaman rumah nampak bergoyang seolah menari mengikuti irama alam menghasilkan suara sendu nan mengusik kalbu. Disaat sepi kian mencekam, seolah ada rasa yang tidak kutahu pasti bergejolak di hati.
Anganku melayang pada kenangan masa lalu, saat kebahagiaan masih bersama  keluargaku. Ada Papa yang sering menemaniku, menatap bulan dan menikmati desauan angin dari balik jendela kamar ini. Waktu itu aku dan Ana- adikku masih kecil. Kami sangat senang ketika Papa mendongeng tentang kisah putri bulan dan ksatria bintang sebagai penghantar tidur.
Hari-hari penuh kebahagiaan itu tidak akan pernah aku lupakan, meski waktu  duapuluh tahun telah berlalu. Kebahagiaan itu sangat singkat, namun meninggalkan kesan mendalam dihatiku. Tapi kini hanya kebencian saja yang tersisa, berkesumat memenuhi relung jiwaku saat ada mahluk sejenis Papa yang mencoba mendekat padaku terlebih pada Ana.
Tidak peduli apa yang mau dikatakan orang-orang tentangku, wanita diusia 33 tahun masih belum menikah. Biarlah mereka bergunjing macam-macam, yang terpenting aku tidak mengantungkan hidupku pada mereka. Aku sudah cukup puas dengan hidupku saat ini, menggantikan Mama menjadi tulang punggung keluarga, menjaga Mama dan Ana serta mencukupi semua kebutuhan kami bertiga.
Aku ingin sekali membahagiakan Mama, karena beliau adalah sosok teladanku. Mama adalah segala-galanya untukku, karenanya Aku tidak pernah berniat mencari pasangan agar membentuk keluargaku sendiri. Aku tidak akan meninggalkan Mama dan Ana seperti yang dilakukan Papa pada kami.
Walau Mama mencoba terlihat tegar dihadapan kami- kedua putrinya, tapi aku tahu ada luka mendalam dihatinya. Jadi Aku berpikir walau hanya kami bertiga, tapi kami bisa bahagia dan saling menjaga satu sama lain. Hidupku hanya untuk Mama dan Ana, selama jiwaku masih setia menemani raga ini aku akan selalu berada disisi mereka.
Meski sudah beberapa kali Mama mencoba mengenalkan Aku dengan sosok lawan jenis, namun Aku selalu punya seribu alasan untuk menolak. Bahkan Aku dengan sengaja mengabaikan temu janji dengan para kaum Adam yang telah Mama atur untukku. Sampai akhirnya Mama menyerah setelah tahu alasanku tidak ingin berhubungan dengan mahluk lawan jenis tersebut.
Namun kini persoalan yang menganggu pikiranku adalah Ana. Belakangan ini adikku itu tampak sibuk sekali, sampai-sampai keberadaannya dirumah sangat jarang terlihat. Dia memang tengah fokus pada kuliahnya, tapi bukan itu yang membuatku uring-uringan. Kedekatannya dengan Rafi, yang diakuinya sebagai temanlah menjadi sang penyebab.
Aku tidak akan ambil pusing jika Ana hanya sibuk pada kegiatan kuliahnya, bahkan sebagai penanggung jawab masa depannya aku akan senang sekali kalau dia dapat menyelesaikan studinya dengan cepat. Tapi tidak untuk urusan lain diluar itu, terlebih yang ada kaitannya dengan mahluk lawan jenis. Dan aku tidak menuduh tanpa bukti, kalau hubungan Ana dan Rafi tidak hanya sebatas teman.
Ketika aku melihat keintiman adikku dengan Rafi, tiba-tiba darahku terasa mendidih. Apa tidak cukup satu mahluk bernama pria merampas kebahagian kami? Apa belum puas ia menghancurkan keutuhan keluargaku? Kenapa Rafi harus hadir mengusik kedamaian hidup kami bertiga dan merampas perhatian Ana?
Aku tidak akan membiarkan Rafi menyakiti adikku. Aku tidak mau luka lama yang digoreskan Papa kembali terjadi dirumah kami. Sebagai kakaknya, aku berhak memberi nasihat dan pengertian pada Ana. Tidak akan aku biarkan ada kumbang yang hendak mengisap sari dari bunga dirumah kami.
Bukankah semua laki-laki itu bencana yang mengerikan bagi kaum wanita? Mereka sangat suka bermain-main dengan kaumku, dan setelah berhasil mendapatkan keinginannya lalu mereka pergi. Mereka menganggap wanita adalah kaum yang lemah dan mudah dibodohi. Hingga mereka bisa sesuka hati bertindak sewenang-wenang, menindas dan melecehkan.
Cukup hanya Mama yang mengalami kesewenangan Papa. Aku tidak ingin ada korban lain dari rumah ini atas perbuatan mahluk sejenisnya. Cukup Mama yang menderita karena Papa tidak menghargai cintanya, pengorbanannya menghadirkan aku dan Ana. Hanya karena permintaan konyol orangtua Papa.
***
“Dari mana kamu sampai pulang malam begini?” tegurku pada Ana saat ia baru tiba dirumah, terlambat dua jam dari peraturan jam malam yang kubuat. Tadi aku melihat dari jendela kamarku yang ada dilantai dua rumah, dia diantar Rafi. Aku sengaja menunggungnya malam ini karena ada hal yang ingin kusampaikan.
“Belajar kelompok. Kenapa Kak? Aku capek!” Ana berhenti sejenak saat menjawabku, tapi setelah itu ia terus melangkah menuju kamarnya yang berada tepat disamping kamarku.
“Belajar apa sampai larut begini?” kejarku mengikutinya dibelakang.
Setelah meletakan tasnya diatas meja, ia berbalik menghadapku. “Maaf Kak, aku...”
“Apa nggak cukup jelas permintaan kakak tempo hari? Atau sekarang kamu sudah nggak menganggap omongan kakak lagi?” potongku cepat disertai emosi yang mulai tersulut.
“Kak, aku...” ucapnya pelan dan tertahan.
“Apa kamu sudah dimabuk asmara dengan Rafi, sampai melupakan norma-norma yang pernah diajarkan?” amarah menguasai pikiranku saat aku teringat apa yang tadi kulihat. Waktu Rafi menghantar Ana, mereka berciuman didepan pagar rumah.
Menyadari kesalahannya, Ana hanya mampu menundukkan kepala.
“Dimana akal sehatmu membiarkan laki-laki menciummu begitu saja? Atau bahkan kamu sudah menyerahkan tubuhmu juga?” aku semakin tidak terkendali dan kulihat Ana mulai terisak.
“Jawab Ana! Jangan sembunyi dibalik airmata palsumu. Apa benar itu, hah? ” tuntutku semakin garang.
“Ke-kenapa Kak Ifa, tega me-nuduhku begitu?” sahutnya lirih disela isak tangisnya. Ana mengangkat kepalanya menatapku dengan wajah yang penuh airmata. Tapi aku tidak iba sama sekali melihatnya, sebab kemarahan membutakan hati nuraniku.
“Apa kamu mau menjadi korban seperti Mama?” lanjutku seraya menguncang tubuh Ana dengan kedua tangan yang kucengkramkan dipundaknya.
“Korban apa, Kak?”
“Korban laki-laki tidak bertanggung jawab, Ana!” bentakku.
“Ana nggak tahu maksud, Kakak?” jawabnya seraya mengusap airmata.
“Apa kamu masih belum sadar, kalau laki-laki cuma berniat memanfaatkan kamu untuk kesenangannya saja? Lihat nanti setelah dia puas mendapatkan yang dimau, pasti kamu juga akan ditinggalkan seperti Papa yang meninggalkan Mama, meninggalkan kita”.
“Kakak jangan menyamakan semua laki-laki seperti Papa. Rafi nggak sama, Kak! Dia laki-laki baik, dan aku mencintainya. Kakak boleh membenci laki-laki, tapi jangan halangi aku buat jatuh cinta” bantahan Ana yang membela kekasihnya semakin menyulut emosiku.
“Ana nggak seperti Kakak yang anti laki-laki, aku nggak mau menjadi perawan tua...” tambahnya lagi.
Kini darahku terasa naik sampai ke ubun-ubun. Aku tidak pernah menyangka Ana akan melawanku demi membela jenis mahluk yang sangat kubenci. Hatiku terluka dengan perkataannya. Adikku yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan Mama, dia yang selalu kujaga selama ini telah berani melawanku. Inikah karma untukku? Hukuman karena telah membenci sosok seseorang yang darahnya mengalir dalam tubuhku.
Dan entah bisikan setan apa yang membuat aku tiba-tiba melayangkan tanganku dengan keras ke pipi Ana. Plaakk!
Demi Tuhan, aku sudah benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Hal ini pertama kalinya aku tidak mampu mengendalikan amarahku, sampai-sampai aku menampar adikku satu-satunya.
Lalu ditengah keterkejutan atas perbuatan yang baru saja aku lakukan, kulihat Ana mengusap pipinya yang memerah. Kini airmatanya pun semakin menderas, tapi itu tidak mampu mengugahku. Kebencianku terhadap laki-laki semakin menjadi setelah dia secara terang-terangan membela kekasihnya.
“Aku rasa kamu pantas mendapatkan itu, karena kamu sudah berani melawan kakak. Apa kamu nggak ingat apa yang sudah kakak lakukan untukmu selama ini?”
Ana masih larut dengan tangisannya dan tidak menjawab. Untung saja malam ini Mama tidak ada dirumah, sebab beliau menginap dirumah Julak Ibnu yang akan mengadakan acara pengajian untuk mendiang mertuanya besok. Mama diminta membantu disana sejak tadi pagi dan tidak diperkenankan pulang malam ini, maka aku bisa bebas mengeluarkan isi hatiku.
“Apa kamu sudah lupa yang terjadi sama Mama, dengan keluarga kita Ana? Apa kamu nggak merasakan penderitaan Mama saat Papa pergi? Hanya karena alasan tradisi darah biru, mereka nggak bisa menerima Mama karena nggak berasal dari kalangan ningrat dan sederajat, hingga mereka tega menghancurkan keluarga kita.
Padahal perkawinan Papa dan Mama nyata-nyata sah dimata agama dan negara. Aku, kamu...kita lahir dari hasil perkawinan itu, kita bukan anak haram. Tapi Papa masih tega meninggalkan kita disaat Mama sangat membutuhkan dukungannya... kita membutuhkan kasih sayangnya...” sampai disitu aku tidak lagi dapat membendung airmataku yang sedari tadi menyesakan dada lantaran kutahan.
Hatiku benar-benar sakit, terluka oleh perlakuan Papa. Pria yang dulu sangat aku sayangi, aku banggakan, kusanjung dan ku idolakan. Aku jatuh terduduk di tepi tempat tidur Ana, kini aku ikut larut dalam tangis kesedihan.
“Ana minta maaf Kak, tapi Papa nggak bersalah” kurasakan Ana mendekat kearahku.
“Nggak seharusnya Kak Ifa membenci Papa seperti ini. Memang waktu Papa pergi Ana masih kecil dan nggak tahu apa-apa. Tapi Mama sudah menceritakan semuanya sama Ana, Kak. Kita nggak selayaknya membenci Papa, karena kepergian Papa bukan karena keinginannya sendiri” perkataan Ana semakin menghancurkan perasaanku.
Aku tidak tahan lagi mendengar Ana membela sosok pria bergelar Papa yang hampir dua dasawarsa tidak pernah menampakan batang hidungnya sama sekali dihadapan kami. Segera kutinggalkan kamar adikku, setengah berlari menuju kamarku sendiri.
“Kak...” kuhiraukan panggilan Ana yang berusaha mengikuti. Setelah sampai dikamar, aku langsung mengunci pintunya dari dalam. Tidak lama kemudian aku mendengar Ana mengetuk diluar sana, tapi aku mengacuhkannya.
“Kak, Kak Ifa... Kakak harus dengar! Aku sama Mama sudah memaafkan Papa, Kak. Dan aku berharap Kak Ifa juga bisa memaafkan Papa...” suara teriakan Ana terdengar didepan pintu. Aku mencoba menutup telingaku dengan bantal sembari merebahkan tubuh lelahku diatas ranjang.
Untuk beberapa saat aku samar mendengar Ana masih berbicara, tapi aku tidak cukup jelas mencernanya karena benda yang menghalangi gendang telingaku untuk dapat menerima suaranya.
Selang sekian menit kemudian, saat kurasa Ana sudah pergi dari depan pintu kamarku. Aku mulai menjauhkan bantal dari kepalaku, dan kini aku tidur dalam posisi terlentang. Pandangan mataku lurus menatap langit-langit kamar yang polos tanpa ornamen seperti dimasa lalu, aku menghela napas panjang berusaha mengurai beban yang menghimpit didadaku.
Kembali anganku teringat akan kenangan manis, saat Papa masih bersama kami. Memori itu bermunculan satu per satu. Ketika itu aku masih duduk di kelas satu Madrasah Tsanawiyah dan Ana dikelas dua Ibtidaiyah. Jarak usia aku dan Ana memang cukup jauh, sebab sebelum kelahiran Ana, Mama pernah dua kali mengalami keguguran. Sampai akhirnya adikku itu menjadi anggota baru dirumah kami, tapi setelahnya dokter mengatakan bahwa Mama tidak mungkin dapat mengandung lagi. Sebab ada tumor yang menyerang kantong rahim beliau, sehingga harus merelakannya untuk diangkat.
Saat mendengar kabar itu, kami begitu sedih terlebih Papa. Beliau sampai menangis seraya memelukku, dan sempat kudengar Papa berucap lirih bahwa ia telah gagal menjadi penerus keluarga karena tidak dapat memenuhi keinginan kedua orangtuanya.
Pada waktu itu aku masih belum mengerti jelas akan maksud perkataan beliau. Tapi setelah beberapa tahun kemudian, barulah aku paham dan itulah titik awal munculnya rasa benciku pada Papa. Kebencian yang teramat sangat hingga mendarah daging memenuhi seluruh relung jiwaku.
Ketika Ana mulai sekolah, kehidupan kami sekeluarga begitu sempurna. Papa dan Mama sangat memanjakan kami. Apalagi perusahaan Papa hasil kerjasamanya dengan Julak Ibnu semakin berkembang, hingga mampu menghasilkan pundi-pundi pendapatan yang melimpah. Jadi kupikir tidak ada alasan untuk mengatakan rumah tangga Papa dan Mama tidak bahagia, bahkan itu terlalu melampaui kata sempurna.
Sampai-sampai sebagai wujud rasa syukur kami, Papa memberangkatkan semua keluarga ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Tidak hanya Papa, Mama, aku dan Ana tapi kami juga mengajak Kaik dan Nini- kedua orangtua Mama ikut serta. Selama ini memang hanya mereka berdua yang kami kenal sebagai Kakek dan Nenek, sebab aku dan Ana tidak pernah mengenal sosok kedua orangtua Papa.
Namun kebahagiaan tersebut tidak berlaku selamanya menjadi milik kami. Suatu hari rumah kami kedatangan tamu dari pulau Jawa yang sebelumnya tidak pernah aku temui. Setelah Papa menjelaskan, barulah aku mengerti. Ternyata mereka adalah orangtua Papa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ketemu, lebih tepatnya sejak Papa merantau ke Kalimantan hingga menetap dan berkeluarga disini.
Bukan karena Papa yang durhaka, atau kami yang tidak ingin menemui mereka melainkan kedua sosok paruh baya itulah yang tidak ingin ditemui. Mereka memang tidak pernah merestui pernikahan Papa dengan Mama karena alasan status sosial yang berbeda.
Maklum saja keluarga Papa memang memiliki garis keturunan darah biru, mereka berasal dari kaum ningrat keraton kesultanan. Jadi wajar saja saat Papa memilih menikahi Mama yang notabene hanya wanita biasa tanpa gelar Raden Ayu atau apalah, mereka murka hingga tidak ingin berhubungan dengan kami. Tapi mengapa sekarang mereka ada dihadapan kami? Aku tidak tahu.
Papa meminta aku dan Ana memanggil keduanya dengan sebutan Eyang Kakung untuk laki-laki yang mengenakan pakaian mirip tokoh dalang ternama, yang membintangi salah satu iklan obat sakit kepala dengan jargon ‘pancen oye’. Dan sebutan Eyang Putri untuk wanita berkebaya lengkap dengan sanggul bundar diatas kepala yang duduk disampingnya.
Semenjak kehadiran kedua Eyang dirumah kami itu, aku merasa begitu takut untuk keluar dari kamar seperti biasa saat menghabiskan waktu bersama Papa dan Mama juga Ana. Semakin hari aku lebih senang mengurung diri didalam kamar saat berada dirumah.
Begitu juga dengan Ana yang memilih bermain dengan boneka-bonekanya dikamar, daripada ketaman yang ada dihalaman depan rumah dimana terdapat ayunan yang biasa kami mainkan bersama.
Lama-kelamaan aku jadi tidak betah dirumah, dan aku mulai pandai berbohong untuk terus mencari alasan pulang terlambat. Sampai akhirnya aku tidak lagi memperhatikan perkembangan yang terjadi didalam rumah.
Aku tidak tahu bahwa ada perubahan besar tengah berproses dalam bahtera rumah tangga Papa dan Mama. Tidak ada lagi yang namanya kebersamaan, seperti dulu sebelum kedatangan Eyang dirumah kami. Hari-hari yang biasa kami lalui dengan ceria, penuh canda tawa tidak pernah ada lagi. Kini Papa sering pulang hingga larut malam.
Sampai sebulan lebih kedua Eyang itu tinggal dirumah kami, tapi masih belum ada tanda-tanda mereka akan pergi. Justru keadaan bertambah parah, sebab kini yang mengambil kendali dirumah adalah Eyang Putri.
Fungsi Mama sebagai ratu dirumah kami tidak kurasakan lagi, akibat campur tangan Eyang Putri yang sudah mulai menerapkan beberapa peraturan yang mengekang kami. Aku dan Ana sering terkena marah akibat melanggar aturannya.
Dan anehnya, Mama tidak pernah membela kami. Beliau hanya memandangi kami seolah-olah tidak punya kuasa apa-apa terhadap kami anak-anaknya. Padahal kami kan anak kandungnya! Sudah barang tentu aku tidak terima dan mulai protes pada Mama.
“Ma, kenapa Mama nggak belain aku waktu Eyang Putri marah tadi?” aku menangis dikamar saat Mama datang menghampiri, usai dimarahi Eyang Putri gara-gara terlambat pulang les.
“Maafin Mama ya sayang,” sahutnya lirih. Aku melihat ada raut kesedihan diwajah cantiknya yang selama ini selalu aku kagumi.
“Ma, sebenarnya ada apa dengan keluarga kita? Kenapa Eyang Kakung sama Eyang Putri masih disini? Apa mereka akan terus tinggal bersama kita? Ifa nggak suka mereka ada dirumah kita, Ma?” rajukku.
“Ifa nggak boleh ngomong begitu! Mereka berdua juga Kakek dan Nenek kamu, sama seperti Kaik dan Nini. Jadi kamu harus menghormati mereka” Mama bersikap bijak seperti biasa.
“Tapi Ma, sejak ada mereka kita sudah jarang berkumpul lagi. Sekarang Papa dan Mama nggak pernah mengajak aku dan Ana jalan-jalan, piknik dan makan bersama direstoran. Sekarang malah Papa selalu pulang larut malam terus? Apa sebenarnya yang terjadi, Ma?” kembali aku mengajukan pertanyaan pada beliau. Tapi bukannya menjawab, Mama langsung merengkuhku ke dalam dekapannya. Lalu diusapnya punggungku dan sekilas kurasakan ciuman dikepalaku.
Aku seolah merasakan kembali limpahan kasih sayang Mama yang sudah lebih dari sebulan tidak kurasakan. Aku pun membalas memeluk Mama dengan kepala bersandar manja didada beliau, dan aku menemukan kehangatan dan kedamaian disana.
Cukup lama kami saling berpelukan, sembari sesekali kurasakan usapan lembut tangan Mama dikepalaku yang masih tertutup jilbab seragam sekolah. Setelah aku merasa ada yang tidak beres dengan sikap Mama aku sedikit bergerak untuk menegadahkan kepala, mencoba menatap wajah wanita yang telah melahirkanku itu.
Dan betapa terkejutnya saat melihat wajah Mama basah oleh airmata. “Kenapa Mama menangis?” tanyaku seraya menyentuh pipi putih beliau untuk mengusap airmatanya.
“Mama nggak apa-apa, sayang” gelengnya sambil mencoba tersenyum setelah menghapus airmatanya. “Ayo cepat, Ifa harus mandi. Sebentar lagi maghrib, habis sholat nanti baru kita makan ya?” lanjut Mama  mengalihkan perhatian dengan membuka jilbabku, lalu membimbingku menuju arah kamar mandi.
“Kalau Ifa nggak mau makan di bawah, nanti Mama bawakan makanannya kesini. Sekarang Mama mau lihat Ana dikamarnya, siapa tahu dia masih tidur? Mama mau bangunin dia...” tambahnya seolah membaca pikiranku sebelum berlalu.
Begitulah Mama, selalu memendam perasaannya sendiri. Beliau tidak ingin membagi masalahnya dengan oranglain walaupun itu orang terdekatnya. Mama lebih memilih menyimpan semua menjadi rahasia.
Dan hal itu sangat menyiksaku, lantaran rasa penasaran yang mengelitik batin. Tapi tetap saja aku tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin Mama masih menganggapku anak kecil sehingga merasa belum saatnya menjadi teman berbagi untuknya.

***
 Catatan.
Julak : Sebutan untuk saudara tua dari pihak Ibu/Ayah (bahasa daerah Kalimantan) seperti halnya Bu’de/Pakde di Jawa atau Om/Tante.
Madrasah Tsanawiyah : Tempat pendidikan/sekolah Islam setingkat SLTP.
Madrasah Ibtidaiyah : Sekolah Islam setingkat SD.
Kaik : Panggilan untuk Kakek (bahasa Banjar)
Nini : Panggilan untuk Nenek (bahasa Banjar)
Eyang Kakung : Kakek (Jawa)

Eyang Putri : Nenek (Jawa)

ZAHLIMA

BAB 1: PERTEMUAN DI ANTARA DUA NEGARA Zahlima Fahira, atau akrab disapa Za, berusia 30 tahun. Wanita kelahiran Bumi Etam—kalimantan—telah me...