BAB 2: AROMA KOPI DAN KETERTARIKAN
Minggu‑minggu berlalu dengan ritme yang tetap sama bagi Tata: bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuhan rumah, berangkat ke kafe, pulang sore, belajar, lalu menjahit hingga larut malam. Di kafe, ia mulai menjadi salah satu karyawan kepercayaan Sigit. Ketelitian Tata dalam mengelola pesanan dan keramahannya membuat banyak pelanggan tetap menyukainya.
Sigit yang biasanya jarang bergaul dekat dengan karyawan, mulai mencari alasan untuk berbicara dengan Tata—mulai dari soal menu baru, cara menyajikan kopi, hingga pertanyaan singkat tentang kuliah Tata di jurusan Ekonomi. Sigit merasa kagum: di usia muda, Tata sudah menanggung beban yang sering kali mematahkan orang lain.
Suatu sore saat hujan turun deras, Tata tidak membawa payung. Sigit menawarkan tumpangan. Di dalam mobil yang hangat, suasana sempat hening.
“Kamu tinggal di daerah pinggiran, kan? Jauh sekali berjalan kaki setiap hari,” buka Sigit.
“Biasanya tidak apa‑apa, Pak. Hujan hari ini agak deras,” jawab Tata sambil menahan kedinginan.
“Panggil Sigit saja saat di luar jam kerja. Kita sebaya meski beda usia,” ujarnya pelan. “Tata, kamu terlihat kuat, tapi kadang matamu menyimpan lelah yang dalam.”
Tata menunduk, terkejut ada orang yang bisa membaca melampaui senyumnya. “Banyak hal yang harus dijalani, Sigit. Tidak ada waktu untuk mengeluh.”
Percakapan itu menjadi awal hubungan yang lebih akrab namun tetap sopan dan terjaga. Sigit melihat Tata bukan sekadar pekerja keras, melainkan wanita yang sangat menjaga kehormatan diri dan pergaulannya. Tidak pernah terlihat berlebihan berpakaian, tidak pernah meladeni canda tidak pantas dari tamu, dan selalu menempatkan batas yang jelas.
Namun di balik itu, Sigit merasakan ada tembok tinggi yang dibangun Tata di hatinya. Gadis itu selalu menjawab tentang tugas, kuliah, atau ibunya—tidak pernah bercerita tentang keinginan atau ketakutan pribadi.
Di rumah, suasana justru semakin menegang. Bunda Emilia sering mengeluh sakit kepala, sering menuduh Tata menyembunyikan uang, dan sesekali melontarkan kata‑kata menyakitkan tentang keberadaan anak laki‑laki yang tidak ada. Tata tahu, ibunya sebenarnya sedang berperang dengan kesepian dan ketakutan masa depan, namun ujungnya selalu dialirkan sebagai penolakan terhadap dirinya.
Malam itu, sambil memegang baju yang sedang dijahit, terlintas lagi rahasia ayahnya. Tata tidak tahu di mana keberadaan istri muda ayah dan adik laki‑lakinya. Ayah hanya sempat menyebutkan kota tempat mereka tinggal, namun tidak pernah menyebut nama lengkap. Kadang Tata merasa bersalah—seolah‑olah keberadaan mereka adalah kesalahan yang harus ia sembunyikan.
Keesokan harinya di kafe, terjadi kejadian kecil yang membuat Sigit semakin yakin akan hatinya. Ada tamu yang berusaha mendekati Tata dengan nada merendahkan. Tata menolak dengan tegas namun tetap sopan, tanpa meladeni emosi. Sigit yang melihat dari kejauhan, segera mendekat dan mengakhiri gangguan itu dengan bijak.
Saat tamu pergi, Sigit berbisik: “Kamu tidak perlu terlihat lemah hanya untuk dianggap sopan, Tata. Cara kamu menjaga diri membuatmu jauh lebih berharga.”