BAB 1: DI BALIK JENDELA KAYU
Langit sore itu kelabu, seolah menahan tangis yang sama beratnya dengan yang dirasakan Jelita Maheswari—atau akrab dipanggil Tata. Di usia 23 tahun, gadis berhijab sederhana itu sudah terbiasa menjadi penopang satu‑satunya dalam rumah kecil berdinding papan di pinggiran kota. Di dalamnya tinggal Emilia Hapsari, ibunya yang kini berusia 49 tahun, namun hidupnya seolah berhenti berputar sejak kepergian suaminya lima tahun silam.
Sejak ayahnya meninggal, kehidupan berubah drastis. Bunda Emilia tidak lagi menjadi wanita lembut yang dulu sering membacakan dongeng sebelum tidur. Depresi perlahan menguasai batinnya, dan setiap kesialan, setiap rasa lelah, setiap kekecewaan, selalu dialirkan ke arah Tata.
“Kalau saja kamu anak laki‑laki, mungkin Ayah tidak akan bekerja terlalu keras sampai jatuh sakit,” ucap Bunda Emilia suatu sore, nada dingin menusuk di ruang tamu yang sempit. Ia sedang duduk di kursi goyang, pandangan kosong menatap tembok.
Tata yang sedang melipat kain hasil jahitan tidak menjawab. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat serupa. Sejak kecil, ia tahu: kehadirannya sebagai anak perempuan bukanlah yang diharapkan ibunya. Ayah memang pernah menginginkan anak laki‑laki, namun baginya—setidaknya saat masih hidup—Tata tetaplah harta berharga. Namun setelah kepergian itu, pandangan Bunda berubah total.
“Bunda, ini bayaran jahitan dari Bu Siti. Cukup untuk beli beras dan obat Bunda minggu ini,” kata Tata lembut, berusaha mengalihkan perhatian.
Emilia menoleh, matanya menyala tajam. “Hasil keringatmu… atau ada bantuan laki‑laki lain di belakangku?”
Tata menghela napas panjang, menahan perih di dada. “Tata bekerja jujur, Bun. Di kafe setiap pagi sampai siang, pulang lanjut menjahit sampai malam. Tidak ada yang lain.”
“Bohong. Semua laki‑laki sama saja seperti Ayahmu. Tampak baik, padahal menyimpan rahasia di belakang,” gumam Emilia, lalu berjalan masuk ke kamar tanpa menyentuh uang yang diletakkan Tata di meja.
Kalimat itu menyentuh luka lama yang disimpan Tata rapat‑rapat. Ia tahu rahasia yang mungkin akan menghancurkan sisa ketenangan ibunya jika terungkap sepenuhnya: sebelum meninggal, ayahnya ternyata memiliki istri muda, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki‑laki—adik tiri yang belum pernah Tata temui secara langsung. Ayah sempat bercerita singkat beberapa hari sebelum jatuh sakit parah, namun meminta Tata merahasiakannya demi menjaga ketenangan rumah tangga.
Beban itu kini menjadi beban ganda di pundak Tata: menjaga kesehatan ibunya, melanjutkan kuliah semester akhir, bekerja di kafe, serta menerima pesanan jahitan di rumah.
Pagi harinya, pukul enam kurang seperempat, Tata sudah berjalan kaki menuju tempat kerjanya: Kafe Senja & Kopi, sebuah bangunan nyaman dengan nuansa kayu cokelat hangat. Di sanalah ia bertemu Sigit Purnomo, pemilik kafe berusia 33 tahun. Sigit dikenal tegas namun adil, jarang tersenyum lebar namun pandai memperhatikan hal‑hal kecil.
Hari itu seperti biasa, Tata menyapa tamu dengan ramah, namun tetap menjaga jarak dan sopan santun. Sigit memperhatikan gerak‑geriknya: rapi, tenang, tidak banyak bicara, namun tangannya bergerak lincah mengatur piring dan gelas. Saat jam istirahat tiba, Sigit melihat Tata duduk di sudut teras, membuka buku catatan kuliah dan mulai membaca sambil meminum air putih sisa minum tamu yang belum habis—tanda hemat yang menyentuh hati Sigit.
“Kenapa tidak pesan makanan di sini untuk istirahatmu?” tanya Sigit tiba‑tiba dari balik bahu.
Tata terkejut, segera menutup buku. “Terima kasih, Pak Sigit. Saya sudah membawa bekal dari rumah.”
Sigit tersenyum tipis—senyum yang jarang dilihat orang lain. “Kamu rajin, Tata. Tapi jangan lupa jaga kesehatan juga.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar