Kamis, 18 Juni 2026

SEBENING BIDADARI

BAB 2: AROMA KOPI DAN KETERTARIKAN
 
Minggu‑minggu berlalu dengan ritme yang tetap sama bagi Tata: bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuhan rumah, berangkat ke kafe, pulang sore, belajar, lalu menjahit hingga larut malam. Di kafe, ia mulai menjadi salah satu karyawan kepercayaan Sigit. Ketelitian Tata dalam mengelola pesanan dan keramahannya membuat banyak pelanggan tetap menyukainya.
 
Sigit yang biasanya jarang bergaul dekat dengan karyawan, mulai mencari alasan untuk berbicara dengan Tata—mulai dari soal menu baru, cara menyajikan kopi, hingga pertanyaan singkat tentang kuliah Tata di jurusan Ekonomi. Sigit merasa kagum: di usia muda, Tata sudah menanggung beban yang sering kali mematahkan orang lain.
 
Suatu sore saat hujan turun deras, Tata tidak membawa payung. Sigit menawarkan tumpangan. Di dalam mobil yang hangat, suasana sempat hening.
 
“Kamu tinggal di daerah pinggiran, kan? Jauh sekali berjalan kaki setiap hari,” buka Sigit.
 
“Biasanya tidak apa‑apa, Pak. Hujan hari ini agak deras,” jawab Tata sambil menahan kedinginan.
 
“Panggil Sigit saja saat di luar jam kerja. Kita sebaya meski beda usia,” ujarnya pelan. “Tata, kamu terlihat kuat, tapi kadang matamu menyimpan lelah yang dalam.”
 
Tata menunduk, terkejut ada orang yang bisa membaca melampaui senyumnya. “Banyak hal yang harus dijalani, Sigit. Tidak ada waktu untuk mengeluh.”
 
Percakapan itu menjadi awal hubungan yang lebih akrab namun tetap sopan dan terjaga. Sigit melihat Tata bukan sekadar pekerja keras, melainkan wanita yang sangat menjaga kehormatan diri dan pergaulannya. Tidak pernah terlihat berlebihan berpakaian, tidak pernah meladeni canda tidak pantas dari tamu, dan selalu menempatkan batas yang jelas.
 
Namun di balik itu, Sigit merasakan ada tembok tinggi yang dibangun Tata di hatinya. Gadis itu selalu menjawab tentang tugas, kuliah, atau ibunya—tidak pernah bercerita tentang keinginan atau ketakutan pribadi.
 
Di rumah, suasana justru semakin menegang. Bunda Emilia sering mengeluh sakit kepala, sering menuduh Tata menyembunyikan uang, dan sesekali melontarkan kata‑kata menyakitkan tentang keberadaan anak laki‑laki yang tidak ada. Tata tahu, ibunya sebenarnya sedang berperang dengan kesepian dan ketakutan masa depan, namun ujungnya selalu dialirkan sebagai penolakan terhadap dirinya.
 
Malam itu, sambil memegang baju yang sedang dijahit, terlintas lagi rahasia ayahnya. Tata tidak tahu di mana keberadaan istri muda ayah dan adik laki‑lakinya. Ayah hanya sempat menyebutkan kota tempat mereka tinggal, namun tidak pernah menyebut nama lengkap. Kadang Tata merasa bersalah—seolah‑olah keberadaan mereka adalah kesalahan yang harus ia sembunyikan.
 
Keesokan harinya di kafe, terjadi kejadian kecil yang membuat Sigit semakin yakin akan hatinya. Ada tamu yang berusaha mendekati Tata dengan nada merendahkan. Tata menolak dengan tegas namun tetap sopan, tanpa meladeni emosi. Sigit yang melihat dari kejauhan, segera mendekat dan mengakhiri gangguan itu dengan bijak.
 
Saat tamu pergi, Sigit berbisik: “Kamu tidak perlu terlihat lemah hanya untuk dianggap sopan, Tata. Cara kamu menjaga diri membuatmu jauh lebih berharga.”
 
Kalimat itu menghangatkan hati Tata—sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini. Namun ia segera mengingatkan diri sendiri: dunia Sigit mungkin terlalu jauh dari dunia yang penuh rahasia dan luka seperti miliknya.

SEBENING BIDADARI

BAB 1: DI BALIK JENDELA KAYU
 
Langit sore itu kelabu, seolah menahan tangis yang sama beratnya dengan yang dirasakan Jelita Maheswari—atau akrab dipanggil Tata. Di usia 23 tahun, gadis berhijab sederhana itu sudah terbiasa menjadi penopang satu‑satunya dalam rumah kecil berdinding papan di pinggiran kota. Di dalamnya tinggal Emilia Hapsari, ibunya yang kini berusia 49 tahun, namun hidupnya seolah berhenti berputar sejak kepergian suaminya lima tahun silam.
 
Sejak ayahnya meninggal, kehidupan berubah drastis. Bunda Emilia tidak lagi menjadi wanita lembut yang dulu sering membacakan dongeng sebelum tidur. Depresi perlahan menguasai batinnya, dan setiap kesialan, setiap rasa lelah, setiap kekecewaan, selalu dialirkan ke arah Tata.
 
“Kalau saja kamu anak laki‑laki, mungkin Ayah tidak akan bekerja terlalu keras sampai jatuh sakit,” ucap Bunda Emilia suatu sore, nada dingin menusuk di ruang tamu yang sempit. Ia sedang duduk di kursi goyang, pandangan kosong menatap tembok.
 
Tata yang sedang melipat kain hasil jahitan tidak menjawab. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat serupa. Sejak kecil, ia tahu: kehadirannya sebagai anak perempuan bukanlah yang diharapkan ibunya. Ayah memang pernah menginginkan anak laki‑laki, namun baginya—setidaknya saat masih hidup—Tata tetaplah harta berharga. Namun setelah kepergian itu, pandangan Bunda berubah total.
 
“Bunda, ini bayaran jahitan dari Bu Siti. Cukup untuk beli beras dan obat Bunda minggu ini,” kata Tata lembut, berusaha mengalihkan perhatian.
 
Emilia menoleh, matanya menyala tajam. “Hasil keringatmu… atau ada bantuan laki‑laki lain di belakangku?”
 
Tata menghela napas panjang, menahan perih di dada. “Tata bekerja jujur, Bun. Di kafe setiap pagi sampai siang, pulang lanjut menjahit sampai malam. Tidak ada yang lain.”
 
“Bohong. Semua laki‑laki sama saja seperti Ayahmu. Tampak baik, padahal menyimpan rahasia di belakang,” gumam Emilia, lalu berjalan masuk ke kamar tanpa menyentuh uang yang diletakkan Tata di meja.
 
Kalimat itu menyentuh luka lama yang disimpan Tata rapat‑rapat. Ia tahu rahasia yang mungkin akan menghancurkan sisa ketenangan ibunya jika terungkap sepenuhnya: sebelum meninggal, ayahnya ternyata memiliki istri muda, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki‑laki—adik tiri yang belum pernah Tata temui secara langsung. Ayah sempat bercerita singkat beberapa hari sebelum jatuh sakit parah, namun meminta Tata merahasiakannya demi menjaga ketenangan rumah tangga.
 
Beban itu kini menjadi beban ganda di pundak Tata: menjaga kesehatan ibunya, melanjutkan kuliah semester akhir, bekerja di kafe, serta menerima pesanan jahitan di rumah.
 
Pagi harinya, pukul enam kurang seperempat, Tata sudah berjalan kaki menuju tempat kerjanya: Kafe Senja & Kopi, sebuah bangunan nyaman dengan nuansa kayu cokelat hangat. Di sanalah ia bertemu Sigit Purnomo, pemilik kafe berusia 33 tahun. Sigit dikenal tegas namun adil, jarang tersenyum lebar namun pandai memperhatikan hal‑hal kecil.
 
Hari itu seperti biasa, Tata menyapa tamu dengan ramah, namun tetap menjaga jarak dan sopan santun. Sigit memperhatikan gerak‑geriknya: rapi, tenang, tidak banyak bicara, namun tangannya bergerak lincah mengatur piring dan gelas. Saat jam istirahat tiba, Sigit melihat Tata duduk di sudut teras, membuka buku catatan kuliah dan mulai membaca sambil meminum air putih sisa minum tamu yang belum habis—tanda hemat yang menyentuh hati Sigit.
 
“Kenapa tidak pesan makanan di sini untuk istirahatmu?” tanya Sigit tiba‑tiba dari balik bahu.
 
Tata terkejut, segera menutup buku. “Terima kasih, Pak Sigit. Saya sudah membawa bekal dari rumah.”
 
Sigit tersenyum tipis—senyum yang jarang dilihat orang lain. “Kamu rajin, Tata. Tapi jangan lupa jaga kesehatan juga.”
 
Di dalam hati Sigit, tumbuh rasa hormat yang perlahan berubah menjadi ketertarikan. Bukan hanya karena wajah Tata yang lembut, melainkan ketangguhan yang terpancar dari gadis sederhana itu.

SEBENING BIDADARI

BAB 2: AROMA KOPI DAN KETERTARIKAN   Minggu‑minggu berlalu dengan ritme yang tetap sama bagi Tata: bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuha...