Kamis, 18 Juni 2026

SEBENING BIDADARI

BAB 2: AROMA KOPI DAN KETERTARIKAN
 
Minggu‑minggu berlalu dengan ritme yang tetap sama bagi Tata: bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuhan rumah, berangkat ke kafe, pulang sore, belajar, lalu menjahit hingga larut malam. Di kafe, ia mulai menjadi salah satu karyawan kepercayaan Sigit. Ketelitian Tata dalam mengelola pesanan dan keramahannya membuat banyak pelanggan tetap menyukainya.
 
Sigit yang biasanya jarang bergaul dekat dengan karyawan, mulai mencari alasan untuk berbicara dengan Tata—mulai dari soal menu baru, cara menyajikan kopi, hingga pertanyaan singkat tentang kuliah Tata di jurusan Ekonomi. Sigit merasa kagum: di usia muda, Tata sudah menanggung beban yang sering kali mematahkan orang lain.
 
Suatu sore saat hujan turun deras, Tata tidak membawa payung. Sigit menawarkan tumpangan. Di dalam mobil yang hangat, suasana sempat hening.
 
“Kamu tinggal di daerah pinggiran, kan? Jauh sekali berjalan kaki setiap hari,” buka Sigit.
 
“Biasanya tidak apa‑apa, Pak. Hujan hari ini agak deras,” jawab Tata sambil menahan kedinginan.
 
“Panggil Sigit saja saat di luar jam kerja. Kita sebaya meski beda usia,” ujarnya pelan. “Tata, kamu terlihat kuat, tapi kadang matamu menyimpan lelah yang dalam.”
 
Tata menunduk, terkejut ada orang yang bisa membaca melampaui senyumnya. “Banyak hal yang harus dijalani, Sigit. Tidak ada waktu untuk mengeluh.”
 
Percakapan itu menjadi awal hubungan yang lebih akrab namun tetap sopan dan terjaga. Sigit melihat Tata bukan sekadar pekerja keras, melainkan wanita yang sangat menjaga kehormatan diri dan pergaulannya. Tidak pernah terlihat berlebihan berpakaian, tidak pernah meladeni canda tidak pantas dari tamu, dan selalu menempatkan batas yang jelas.
 
Namun di balik itu, Sigit merasakan ada tembok tinggi yang dibangun Tata di hatinya. Gadis itu selalu menjawab tentang tugas, kuliah, atau ibunya—tidak pernah bercerita tentang keinginan atau ketakutan pribadi.
 
Di rumah, suasana justru semakin menegang. Bunda Emilia sering mengeluh sakit kepala, sering menuduh Tata menyembunyikan uang, dan sesekali melontarkan kata‑kata menyakitkan tentang keberadaan anak laki‑laki yang tidak ada. Tata tahu, ibunya sebenarnya sedang berperang dengan kesepian dan ketakutan masa depan, namun ujungnya selalu dialirkan sebagai penolakan terhadap dirinya.
 
Malam itu, sambil memegang baju yang sedang dijahit, terlintas lagi rahasia ayahnya. Tata tidak tahu di mana keberadaan istri muda ayah dan adik laki‑lakinya. Ayah hanya sempat menyebutkan kota tempat mereka tinggal, namun tidak pernah menyebut nama lengkap. Kadang Tata merasa bersalah—seolah‑olah keberadaan mereka adalah kesalahan yang harus ia sembunyikan.
 
Keesokan harinya di kafe, terjadi kejadian kecil yang membuat Sigit semakin yakin akan hatinya. Ada tamu yang berusaha mendekati Tata dengan nada merendahkan. Tata menolak dengan tegas namun tetap sopan, tanpa meladeni emosi. Sigit yang melihat dari kejauhan, segera mendekat dan mengakhiri gangguan itu dengan bijak.
 
Saat tamu pergi, Sigit berbisik: “Kamu tidak perlu terlihat lemah hanya untuk dianggap sopan, Tata. Cara kamu menjaga diri membuatmu jauh lebih berharga.”
 
Kalimat itu menghangatkan hati Tata—sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini. Namun ia segera mengingatkan diri sendiri: dunia Sigit mungkin terlalu jauh dari dunia yang penuh rahasia dan luka seperti miliknya.

SEBENING BIDADARI

BAB 1: DI BALIK JENDELA KAYU
 
Langit sore itu kelabu, seolah menahan tangis yang sama beratnya dengan yang dirasakan Jelita Maheswari—atau akrab dipanggil Tata. Di usia 23 tahun, gadis berhijab sederhana itu sudah terbiasa menjadi penopang satu‑satunya dalam rumah kecil berdinding papan di pinggiran kota. Di dalamnya tinggal Emilia Hapsari, ibunya yang kini berusia 49 tahun, namun hidupnya seolah berhenti berputar sejak kepergian suaminya lima tahun silam.
 
Sejak ayahnya meninggal, kehidupan berubah drastis. Bunda Emilia tidak lagi menjadi wanita lembut yang dulu sering membacakan dongeng sebelum tidur. Depresi perlahan menguasai batinnya, dan setiap kesialan, setiap rasa lelah, setiap kekecewaan, selalu dialirkan ke arah Tata.
 
“Kalau saja kamu anak laki‑laki, mungkin Ayah tidak akan bekerja terlalu keras sampai jatuh sakit,” ucap Bunda Emilia suatu sore, nada dingin menusuk di ruang tamu yang sempit. Ia sedang duduk di kursi goyang, pandangan kosong menatap tembok.
 
Tata yang sedang melipat kain hasil jahitan tidak menjawab. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat serupa. Sejak kecil, ia tahu: kehadirannya sebagai anak perempuan bukanlah yang diharapkan ibunya. Ayah memang pernah menginginkan anak laki‑laki, namun baginya—setidaknya saat masih hidup—Tata tetaplah harta berharga. Namun setelah kepergian itu, pandangan Bunda berubah total.
 
“Bunda, ini bayaran jahitan dari Bu Siti. Cukup untuk beli beras dan obat Bunda minggu ini,” kata Tata lembut, berusaha mengalihkan perhatian.
 
Emilia menoleh, matanya menyala tajam. “Hasil keringatmu… atau ada bantuan laki‑laki lain di belakangku?”
 
Tata menghela napas panjang, menahan perih di dada. “Tata bekerja jujur, Bun. Di kafe setiap pagi sampai siang, pulang lanjut menjahit sampai malam. Tidak ada yang lain.”
 
“Bohong. Semua laki‑laki sama saja seperti Ayahmu. Tampak baik, padahal menyimpan rahasia di belakang,” gumam Emilia, lalu berjalan masuk ke kamar tanpa menyentuh uang yang diletakkan Tata di meja.
 
Kalimat itu menyentuh luka lama yang disimpan Tata rapat‑rapat. Ia tahu rahasia yang mungkin akan menghancurkan sisa ketenangan ibunya jika terungkap sepenuhnya: sebelum meninggal, ayahnya ternyata memiliki istri muda, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki‑laki—adik tiri yang belum pernah Tata temui secara langsung. Ayah sempat bercerita singkat beberapa hari sebelum jatuh sakit parah, namun meminta Tata merahasiakannya demi menjaga ketenangan rumah tangga.
 
Beban itu kini menjadi beban ganda di pundak Tata: menjaga kesehatan ibunya, melanjutkan kuliah semester akhir, bekerja di kafe, serta menerima pesanan jahitan di rumah.
 
Pagi harinya, pukul enam kurang seperempat, Tata sudah berjalan kaki menuju tempat kerjanya: Kafe Senja & Kopi, sebuah bangunan nyaman dengan nuansa kayu cokelat hangat. Di sanalah ia bertemu Sigit Purnomo, pemilik kafe berusia 33 tahun. Sigit dikenal tegas namun adil, jarang tersenyum lebar namun pandai memperhatikan hal‑hal kecil.
 
Hari itu seperti biasa, Tata menyapa tamu dengan ramah, namun tetap menjaga jarak dan sopan santun. Sigit memperhatikan gerak‑geriknya: rapi, tenang, tidak banyak bicara, namun tangannya bergerak lincah mengatur piring dan gelas. Saat jam istirahat tiba, Sigit melihat Tata duduk di sudut teras, membuka buku catatan kuliah dan mulai membaca sambil meminum air putih sisa minum tamu yang belum habis—tanda hemat yang menyentuh hati Sigit.
 
“Kenapa tidak pesan makanan di sini untuk istirahatmu?” tanya Sigit tiba‑tiba dari balik bahu.
 
Tata terkejut, segera menutup buku. “Terima kasih, Pak Sigit. Saya sudah membawa bekal dari rumah.”
 
Sigit tersenyum tipis—senyum yang jarang dilihat orang lain. “Kamu rajin, Tata. Tapi jangan lupa jaga kesehatan juga.”
 
Di dalam hati Sigit, tumbuh rasa hormat yang perlahan berubah menjadi ketertarikan. Bukan hanya karena wajah Tata yang lembut, melainkan ketangguhan yang terpancar dari gadis sederhana itu.

Sabtu, 20 Januari 2018

CERPEN - MENGGENANG BIDADARI



     Samarinda hari ini gerimis
     Meski kemarin sangat panas
     Cuaca mudah sekali berubah
     Seperti hati...
     Yang selalu berubah
     Entah esok akan seperti apa lagi?
     Tidak mungkin setiap hari cerah
     Tapi meskipun mendung....
     Meskipun hujan...
     Ataupun kelam...
     Asalkan bersamamu
     Aku bisa melewatinya
     Dengan bahagia....
     Semua karena senyummu itu
     Senyum yang selalu kurindukan
     Senyum yang selalu menghiasi bibirmu
     Aku tidak akan pernah bisa berpaling ke lain hati lagi
     Meski kini cuaca selalu berubah-ubah
     Tapi hati ini akan selalu menjadi milikmu
     Karena kaulah sang pemilik hati ini
     Kini...
     Nanti...
    Dan selamanya...
          Selembar kertas berwarna merah jambu itu tidak sengaja kutemukan di sela buku harianmu. Kertas itu berisi sebuah puisi, puisi yang kau tulis dan kau bacakan padaku saat kita tengah merayakan anniversary pernikahan kita yang pertama.
          Sesaat sebelum kau kabarkan berita paling bahagia, bahwa kau telah mengandung buah cinta kita yang kini menjadi penerang jalanku setelah kegelapan yang melanda hati.
          Membaca puisi itu kembali membuatku sedih. Kesedihan yang teramat dalam yang ada dalam lubuk hatiku, lantaran kini aku telah kehilanganmu.
          Kehilangan sosok wanita yang selalu ada di hatiku. Sosok wanita pemilik mata indah yang selalu kurindukan, dan sosok wanita istimewa yang pernah aku kenal sepanjang hidupku di dunia ini.
          Kenangan saat kita bersama terasa begitu indah. Membuat aku ingin sekali mengulang masa-masa itu jika Tuhan mengizinkan.
          Memberikan aku kesempatan lagi, namun kini itu hanya akan ada dalam mimpi. Karena kini engkau sudah tidak bersamaku, tidak akan pernah bisa bersamaku lagi.
          Mengapa dada  ini  terasa  begitu  sakit  bila  aku  mencoba  untuk  mengingatmu.  Perpisahan  ini  terasa  begitu  sangat  menyakitkan,  meski  mulut  ini  mengatakan  telah  meng-ikhlaskan  dirimu.
          Tapi  lagi-lagi  egoku  menghancurkan  benteng  ketegaran  yang  telah  dengan  susah  payah  coba  ku bangun  semenjak  kepergianmu.
          Kini aku masih terpekur di kursi kerjamu. Didalam ruangan pribadi milikmu yang berada tepat disamping kamar kita. Ruangan ini terasa sangat dingin dan sepi semenjak engkau tinggalkan.
          ‘Nissa, sedang apa kau disana Sayang? Apa kau tahu aku sangat merindukanmu?...’ desahku pelan.
          Ada rasa pilu di hati ini setiap aku memikirkan dirimu seraya menyusuri pandangan di sekeliling ruangan dimana dulu menjadi daerah tertorialmu.
          Tampak rak-rak yang penuh dengan buku-buku yang menjadi koleksimu tersusun rapi. Hampir seluruhnya buku-buku bernuansa Islami bertengger disana, karena memang kau selalu memilih  buku-buku berkualitas sebagai teman waktu luangmu.
          Kau pernah mengatakan, bahwa buku-buku itu adalah teman pengisi waktu luang yang sangat baik. Buku  kau anggap sebagai sahabat yang sangat jujur.
          Menurutmu buku pun dapat menjadi sahabat karib yang tidak pernah membosankan, dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan pernah mengusir pembacanya.
          Buku juga tidak akan pernah berbohong, tidak juga menipu apalagi sampai berkhianat seperti halnya jika kita memiliki seorang teman yang nyata.
          Betapa buku-buku itu sangat teristimewa bagimu, karena sebuah buku itu seperti teman yang setia. Baik dikala sedih maupun senang, baik itu siang ataupun malam saat mata sulit terpejam.
          Buku itu guru yang tidak pernah lelah memberikan faedahnya, meski pembacanya pergi meninggalkannya dan beralih pada buku yang lain. Namun manfaat ilmu yang telah diberikannya tidak akan pernah dapat terlupakan, karena telah tertanam di pikiran penikmatnya.
          Maka dari itu engkau sangat bersemangat untuk terus menulis, hingga dapat menghasilkan buku-buku terbaikmu yang engkau harapkan dia kelak dapat menjadi teman, sahabat dan guru bagi semua pembacanya meski kau telah pergi nanti.
          Kini mataku kembali mengarah ke atas  meja kerja dihadapanku. Tampak seperangkat komputer dengan LCD flat masih tertata rapi  disana.
          Posisinya tidak berpindah sedikit pun, ia tengah  bersanding dengan sebuah notebook kesayangan yang sering kau ajak pergi kemana pun saat kau keluar rumah.
          Kedua benda itu dulu sangat kubenci, lantaran mereka sering menyita banyak waktumu dan membuatku cemburu pada keduanya. Semua karena kegemaranmu menulis yang membuatmu lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka.
          Namun ketika melihatmu tersenyum lebar dan mata beningmu tampak bersinar bahagia saat hasil karyamu berhasil diterbitkan, kemudian menjadi karya bestseller.
          Melihat hal itu rasa benci, kesal dan cemburuku berganti dengan rasa bahagia, seperti menebus segalanya terlebih saat melihatmu dapat tersenyum ceria pada semua pembaca setiamu saat proses launcing buku-buku tersebut.
          Bertemu dengan para pembacamu secara langsung, membagikan tanda tanganmu dengan gembira, hingga terbersit rasa bangga dihatiku dapat memilikimu bidadariku yang sempurna.
          Lalu pandanganku tertuju pada sebuah frame yang terletak di sudut meja. Tampak fotomu disana dan juga foto kita saat bersama menghabiskan masa libur di pantai yang menjadi tempat favoritmu.
           Senyummu terlihat sangat luar biasa manis disana. Saat itu kita sedang merayakan kesuksesanmu untuk kesekian kalinya, karena semua karya-karya yang kau hasilkan selalu menjadi yang terbaik dan terspecial terutama bagiku sang pemilik hati indahmu.
          ‘Nissa bidadariku, betapa begitu sempurnanya dirimu‘ bisikku lagi sembari mengenggam fotomu. Aku mendekapnya erat didada hingga tidak dapat menahan laju tetesan cairan bening yang mulai mengalir deras dari sudut mataku kini.
          Kucoba menahan isak agar tidak ada yang dapat mendengarnya. Meski kata orang jika seorang pria menangis itu merupakan hal yang memalukan, namun tidak bagiku.
          Aku tidak pernah malu untuk menangisimu entah saat kepergianmu meninggalkanku ataupun kini saat aku menggenangmu.
                    Aku rindu dengan senyumanmu wanitaku, senyum indah yang menebar kedamaian bagi siapapun yang menatapmu.
         Keindahan itulah yang selalu membuatku merasakan gambaran seorang Ibnu Qayyim dalam qasidah Nuriyah-nya yang melukiskan kecantikan wanita shalehah sang Mujahiddah Sejati.
     ‘Bidadari cantik nan sempurna
     Indah perangai, indah segala
     Adakah wanita yang melebihi
     Pemilik wajah berseri bak mentari
     Mata hitam dengan bulu mata lentik mengoda hati terusik
     Alis teduh penuh pesona
     Menambah syahdu rona wanita
     Lembut bagai mentega
     Indah bagai mutiara
     Sungguh...
     Sempurna tiada tara‘
***
 
   

  Aku kembali mencoba membaca buku harianmu, dan anganku melayang terbang merasakan indahnya kebersamaan denganmu yang terasa begitu singkat. Mulai kucermati setiap kata-kata dalam goresan tanganmu disana, sampai di satu kalimat aku terhenti.
          ‘....Subhanallah, hari ini Allah Ta’Alla memberikanku suatu pilihan yang sulit dalam hidup ini. Haruskah aku berucap Hamdallah? Ataukah aku harus bersedih dan beristighfar menyebut asma-Nya Astagfirullahaladziim.
          Akhi Ahmad ingin menghitbahku, meski hal ini merupakan salah satu impianku yaitu dapat mendampingi sosok Ikhwan shaleh yang sangat kudamba untuk menjadi imamku.
          Tapi aku pun harus sadar diri, siapakah aku ini? Dan bagaimana keadaanku saat ini? Yaa Rabbi Yaa Illahi, hamba harus menjawab apa atas  pinangan ini? ‘- Desember 2011.
          Kucoba mengingat peristiwa lima tahun silam itu. Hari di saat aku beserta keluargaku datang ke rumah orangtua angkatmu untuk melamarmu menjadi bidadari dalam hidupku selamanya.
          Saat itu kau menjelaskan perihal kondisi tubuhmu yang tengah sakit, dan vonis dokter yang mengatakan kemungkinan untuk sembuh sangat tipis mengingat penyakit yang kau derita cukup berat.
          “Nissa, usia seseorang itu bukanlah hak seorang dokter yang menentukan tapi hanya Allah Ta‘Alla Nis, hanya Dia-lah Sang Maha Penggengam kehidupan yang Maha Mengaturnya pula.
          Aku ingin kau tetap mengizinkanku untuk hidup bersamamu, berbagi sakitmu dan izinkan aku untuk menjadikan kau halal bagiku...”ucapku saat itu membujukmu untuk tidak menolak dengan alasan kesehatanmu yang sedang memburuk saat itu.
         Karena aku telah terlanjur sangat menyukaimu dari semenjak kita pertama kali bertemu. Setelah melihatmu aku merasakan satu hal yang tidak bisa kujelaskan dengan untaian kata-kata, namun yang pasti hati ini mengatakan bahwa kamulah bidadari yang dikirim Tuhan untukku.
         Aku  benar-benar merasakan apa yang disebut ‘falling in love at the first sight‘- jatuh cinta pada pandangan pertama padamu.
         Memang setiap kejadian yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari Kekuasaan Sang Maha Khalik Yang Maha Mengatur segalanya.
         Pertemuan kita pun bukanlah suatu kebetulan semata, aku yakin ada campur tangan-Nya disana. Dan semua yang terdetik di hatiku pun itu merupakan skenario Sang Maha Pengasih, untuk mempertemukanku dengan kekasih hati yang akan menjadi belahan jiwaku.
         Kunjunganku beserta keluarga yang sudah menjadi kebiasaan dan kewajiban bagi kami sekeluarga. Dalam rangka memberikan sebagian harta kami kepada sesama yang lebih membutuhkan.
         Saat itu tertuju pada sebuah yayasan yatim piatu tempatmu mengabdikan diri, yang memang dulunya tempat kau pernah tinggal.
         Tempat itu yang menjadi tujuan kami dengan bimbingan dari Sang Maha Pengatur tentunya.
         Niat kami sekeluarga untuk memberikan santunan pada anak-anak yatim dan dhuafa yang ada di sana bukanlah tanpa rencana dari-Nya, Allah Azza Wa Jalla yang Maha Berkehendak mempertemukan kita.
         Karena aku sangat yakin tidak ada satu hal pun yang terjadi dimuka bumi ini tanpa ada campur tangan dari-Nya, juga tanpa sepengetahuan-Nya karena hanya Dia-lah Sang Maha Pengenggam Segala Sesuatu.
        ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa dibumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab Lauh Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah Subhanahu Wa Ta’Alla‘.  QS. 57 : 22
         Kau adalah sosok bidadari yang tak bersayap, parasmu yang cantik, perangaimu nan lembut dan santun yang langsung pada saat itu juga membuat aku dan kedua orangtuaku terpesona dan kagum.
          Siti Chairunissa- nama yang begitu indah, sarat makna terpendam di sana dan sangat serasi bagi pemilik senyum termanis yang pernah kulihat.
          Kala itu penampilanmu begitu sahaja dengan balutan abaya dan hijab panjang yang terjulur hingga memberikan kesan bahwa kau sangat menjaga auratmu, dan menyiratkan pula kepribadianmu sebagai muslimah sejati.
          ‘Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kehormatannya, dan jangan mereka menampakkan perhiasaannya, terkecuali yang biasa nampak darinya.
          Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung sampai kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya rambutnya, kecuali pada suami mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
          Dan janganlah mereka memukul kalinya, agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung‘.  QS. 24 : 31 
          Dan meskipun engkau dibesarkan di sebuah Panti Asuhan lantaran kedua orangtuamu telah menghadap Sang Maha Khalik terlebih dahulu tanpa memiliki sanak saudara lagi.
          Walaupun kau diasuh oleh sebuah keluarga sederhana, yang kemudian menganggapmu sebagai anak angkat mereka. Semua hal itu tidak menyurutkan langkahku untuk berniat menjadikanmu pendamping hidupku selamanya. Dan kenangan pada saat itu sangat begitu membahagiakan diriku.
          Hatiku begitu berdebar hebat saat pertama kali menemui keluarga angkatmu. Ketika proses ta’aruf dengan persetujuan Ustadz Mahmud Mubarak, yang telah lama menjadi Guru pembimbing ilmu agama bagi keluarga kami yang ternyata beliau adalah adik dari ayah angkatmu. Aku bertambah yakin dengan skenario Allah Ta’Alla di sana.
          Dengan mengucap Basmallah kuberanikan diri untuk mengutarakan niat suci untuk menyempurnakan agamaku dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, menghitbahmu yang diwakilkan Papa untuk mengutarakannya pada kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkanmu.
          ‘Apabila Allah Subhanahu Wa Ta’Alla telah menumbuhkan hasrat untuk meminang seorang wanita pada hati seorang laki-laki maka tidak mengapa ia melihat wanita itu‘. Al  Hadits dari Imam Ahmad dan Ibnu Majah.
          “Maaf akhi, tidak sepatutnya saya menyembunyikan keadaan ini... saat ini saya bukan orang yang tepat untuk akhi jadikan pendamping hidup, terlebih niat akhi menghitbah saya.
         Karena saat ini kondisi kesehatan saya tidak cukup baik, dan hal itu yang mengharuskan saya untuk memberitahu antum agar akhi tidak menyesal dikemudian hari“.
          Kejujuran saat proses ta’aruf itu semakin membuatku bersimpatik pada sosok bidadariku, hingga tekatku semakin kuat untuk segera menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hatiku.
          “Tidaklah seseorang yang sakit diberikan kepada seseorang yang sehat, seperti terkutip dalam hadits riwayat Bukhari akhi, saya tidak ingin menjadi beban bagi hidup antum kelak“
          Begitu fasih dan santun kata-katamu mencoba meyakinkanku tentang buruknya kondisi kesehatanmu dengan kedalaman ilmu agama yang kau miliki.
          Dan semakin kau memberikan berbagai alasan untuk menghentikan langkahku menghitbahmu, maka semakin besar pula keinginan itu.
          Sampai kurasa aku tidak lagi memiliki logika untuk berfikir selain tentangmu. Karena aku telah terlanjur hanyut dalam arus cinta yang hadir dalam diriku, sejak aku melihat sosok bidadari yang mulia dihadapanku dalam wujud ragamu.
     Bidadariku Kaulah dambaan setiap insan
     Kau tahu aku tidak mau ditunggu dan menunggu
     Tapi aku ingin datang lebih dulu
     Untuk menjalani hari-hari indah bersama dalam naungan payung Illahi
     Engkaulah bidadari pencuri hatiku
     Aku tidak mampu melupakan dirimu
     Aku tidak akan sanggup berpisah darimu
     Aku ingin menjadikan Kau halal bagiku
     Aku ingin menyempurnakan agamaku bersamamu
     Aku ingin menjadikanmu satu-satunya pemilik hatiku
     Izinkan aku untuk meminangmu
     Karena hanya Kaulah bidadari yang aku mau
***
          Akhirnya pernikahan itu pun terjadi. Betapa itu adalah hari yang paling membahagiakan sepanjang perjalanan hidupku. Hari dimana aku dapat bersanding dengan sosok bidadari yang tak sekedar elok paras rupanya namun juga santun dan tinggi budi pekertinya.
Do’a Pengantin
     Yaa Rabb,
     Jadikanlah kami sebagai suami istri yang saling mendo’akan
     Dalam kebaikan dan ketaqwaan
     Saling menyempurnakan dalam ibadah Kepada-Mu
     Kukuhkanlah cinta dan juga kasih sayang kami
     Saling memelihara kehormatan di kala jauh
     Saling menghibur di kala duka
     Saling mengingatkan di kala suka
     Saling bersyukur di kala bahagia
     Senantiasa mencari persamaan
     Dalam setiap perbedaan
     Senantiasa menyatukan arah dan langkah
     Dalam upaya membina keluarga
     Sakinah, mawaddah,warahmah
     Dalam merengkuh cita-cita mulia
     Fiddunya hassanah,Wa fil Akhirati hassanah wa qinna adzabannar
     Aamiin.
          Selama mengarungi bahtera hidup berumah tangga denganmu, tidak pernah sekalipun aku merasa menyesal telah memilihmu untuk menjadikanmu kekasih halalku.
         Keshalihan seorang istri ada pada sosok dirimu. Hal itu  membuatku merasa betapa indahnya mahligai pernikahan yang kita jalani.
          “Abi, kita tahajjud dulu yuk“ ajakmu di setiap sepertiga malam. Inilah yang menjadikan aku semakin sayang pada dirimu bidadariku. Meski tubuh ini lelah dan letih, lantaran telah seharian beraktifitas di kantor.
          Namun saat melihat senyuman yang selalu kau berikan padaku, dapat menghilangkan semua rasa yang menganggu itu.
          Mengantikannya dengan perasaan bahagia, hingga tidak akan ada alasan bagiku  menolak ajakanmu untuk bersama-sama mencurahkan segala hal pada Sang Pemilik waktu yang penuh keberkahan itu.
          ‘Sesungguhnya di waktu malam itu terdapat suatu waktu yang jika saja bertepatan dengan waktu itu seorang hamba muslim memohon kebaikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’Alla berkaitan dengan urusan di dunia dan di akhirat, sudah pasti Allah akan memberikannya kepadanya. Waktu itu terdapat pada setiap malam‘.Al Hadits dari Imam Muslim
          Hari-hari selalu kulewati dengan senyum kebahagiaan yang menyelimuti keluargaku yang telah lengkap. Sehingga rasanya aku ingin sekali menghentikan waktu, agar kebahagiaan ini tetap kumiliki. Karena kuingin tidak akan ada hari esok dan seterusnya yang akan membuatnya berlalu.
          “Abi kalau bisa, coba sisihkan sedikit waktu Abi sebelum memulai aktifitas di kantor untuk melaksanakan Shalat Dhuha karena itu sangat baik untuk mendatangkan rezki yang lebih berkah pada keluarga kita“ pesanmu disuatu hari di saat awal-awal kita menjadi sepasang suami istri.
          “Iya sayang, aku akan usahakan meluangkan waktu yang ada untuk melakukan itu, karena aku yakin apa yang kau sarankan itu pasti membawa kebaikan untukku.
          Sekarang aku berangkat ke kantor dulu ya, kamu jangan terlalu lelah. Karena aku mau kamu tetap sehat dan selalu ada disampingku sampai kita tua nanti” balasku dan kemudian kau dengan hikmat mencium punggung tanganku sebagai tanda baktimu.
          “Aamiin Abi, Ummi akan turuti permintaan Abi selama itu untuk kebaikan kita“.
          “Assalamualaikum bidadariku“ lanjutku seraya mengecup keningmu.
          “Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarrakatuh“.
          Kebahagiaan dalam hidupku jadi semakin bertambah ketika akhirnya Kau berikan aku seorang malaikat kecil yang cantik. Setelah hampir setahun kita menantikan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kecil kita, Zahra Al Qorana lahir.
          Aku merasakan kehidupanku bertambah sempurna, meski kita berdua sempat mengalami kesulitan selama proses mengandung dan  melahirkannya. Sebab kondisi tubuhmu yang lemah, karena sakit yang kau derita tak kunjung mengalami kemajuan.
          Dan diusianya yang menginjak empat tahun, aku telah melihat sosok penjelmaan bidadari pada diri buah hati kita. Kau dan Zahra akan selalu menjadi pemilik hatiku, kalian adalah sumber kekuatan yang aku miliki.
          Namun aku harus kembali menginjakkan kaki ke bumi, yang memiliki roda kehidupan yang berputar. Semua yang ada di dunia ini sudah memiliki jalan cerita sendiri.
          Mereka terangkum di sebuah mega server bernama Lauh Mahfuzh, hingga tidak ada makhluk apapun yang dapat mengubah takdir kehidupan yang telah tersimpan disana.
          Apalagi itu hanya seorang aku, salah satu makhluk ciptaan-Nya yang begitu lemah dan hina dihadapan Sang Maha Kuasa.
          ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa dibumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab Lauh Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah Subhanahu Wa Ta’Alla‘. QS. 57 : 22
          Hingga akhirnya aku harus ikhlas menjalani takdirku yang kini telah memasuki episode kesedihan, tepatnya bermula pada peristiwa di pagi hari itu.
          “Mas, Mas Ahmad...tolong Mas, Mba Nissa pingsan di dapur...” teriak Mutia adikku yang membuat semua penghuni rumah panik.
          Yah...seperti hari-hari biasanya, pagi itu seusai seluruh keluarga menunaikan shalat subuh berjamaah. Kau selalu menyibukkan diri didapur, entah ada saja yang kau lakukan untuk membantu asisten rumah tangga kita untuk menyiapkan sarapan.
          Meski aku dan Mama sering melarangmu, lantaran sudah ada Bi Asih- asisten rumah tangga yang mengerjakannya untuk kita. Tapi kau selalu memiliki barbagai alasan untuk tidak menghiraukan permintaan kami yang satu itu.
          Dan pada hari itu kebetulan Bi Asih sedang cuti pulang ke rumah anaknya untuk menengok cucunya yang sedang sakit karena juga bertepatan dengan hari libur akhir pekan.
           “Mut, cepat kamu telpon Dr. Husna...“ perintahku pada Mutia yang saat itu sedang berada disamping tubuhmu yang terbaring dilantai dapur.
          “Ada apa Ahmad? Nissa kenapa?“ tanya Papa yang turut mencemaskanmu, setibanya beliau didapur yang diikuti oleh Mama di sampingnya yang sedang mengendong Zahra yang memang tadi sedang bermain bersama kakek dan neneknya.
          “Ahmad juga tidak tahu Pa. Memang semalam Nissa mengeluh sakit kepalanya kambuh lagi, tapi setelah meminum obatnya dia sudah merasa baikkan seperti serangan-serangan sakit kepala yang biasa kambuh pasca operasinya.
          Tidak lama sakitnya akan hilang kalau sudah meminum obatnya Pa,“ jawabku yang kini tengah menopangmu dan berusaha untuk memindahkan tubuh lemahmu ke ruang tengah. Disana terdapat sofa yang akan membuatmu lebih nyaman.
         “Mas, dokter Husna sedang di luar kota jadi tidak bisa kemari“ lapor Mutia pada kami yang tengah mendampingimu.
         “Ya sudah, kalau begitu kita langsung bawa istrimu ke rumah sakit saja Ahmad, kasihan wajahnya semakin pucat. Ayo cepat!“ usul Papa kemudian bergegas meraih kunci mobil yang ada di atas meja ruang tengah, tempat biasa kami menyimpan segala jenis kunci kendaraan kami  masing-masing disana.
         Aku pun langsung mengangkat tubuhmu yang semakin lemah menuju mobil yang telah Papa siapkan. Kuletakan tubuhmu di kursi belakang yang kuikuti dengan duduk disampingmu mencoba menopang tubuhmu.
         Sementara Mama sudah duduk di samping Papa di bagian depan, kemudian beliau mengintruksikan Mutia untuk tetap dirumah menjaga Zahra yang tampak binggung dengan kepanikan yang terjadi dan aku yakin ia pun merasakan ada sesuatu yang terjadi.
         Namun untung saja buah hati kita itu bukan merupakan anak yang cengeng dan rewel. Meski usianya masih terbilang sangat belia, namun didikanmu sebagai umminya membuat dia sudah bisa bersikap mandiri walau dalam lingkup sebagai anak-anak.
         Sesampai di rumah sakit, setelah beberapa lama dokter menanganimu dengan serius akhirnya seorang pria setengah baya bersetelan jas putih tampak menghampiri kami dan membawa kami menuju ruangannya untuk menjelaskan keadaanmu.
         Dan lagi-lagi vonis dokter membuat tubuhku terkulai lemas tak berdaya. Serasa hilang semua kekuatan yang menopang raga ini untuk tetap tegar.   
         Inilah saat yang paling aku takutkan, meski dahulu kau sudah berulang kali mencoba menjelaskan tentang sakit yang kau derita.
        Namun keegoisan diriku sendirilah yang kini membuatku harus megikhlaskanmu untuk meninggalkanku menuju kehidupan hakikimu di pangkuan Ilahi untuk selamanya.
        Tapi seringkali aku ungkapkan, bahwa aku sama sekali tidak pernah merasa menyesal pernah memilihmu, memilikimu walau untuk waktu yang singkat. Aku yakin kau adalah bagian tulang rusukku yang memang telah Allah Ta’Alla gariskan kembali padaku untuk melengkapi hidupku, meski kini Dia telah memintamu  kembali pada-Nya.
         Penyakit kanker otak yang kau derita kini telah mencapai stadium lanjut. Walau kita sempat melakukan berbagai ihktiar untuk mengobati sakitmu, namun segala upaya seseorang itu memang hanya sebatas kemampuannya saja. Tapi kehendak-Nya lah yang menjadi ketetapan yang berlaku.
         Akhirnya aku pun harus kehilangan sosok bidadari yang telah mengisi hari-hari bahagiaku selama lima tahun terakhir ini, engkau telah menghembuskan nafas terakhirmu tiga jam setelah keberadaanmu di rumah sakit.  Dan kini engkau hanya menyisakan kenangan indah yang akan selalu aku ingat selama masa hidupku.
          Aku berjanji dalam hatiku untuk menjaga juga merawat buah cinta kita sebaik-baiknya, meski kini ia harus menjadi piatu. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakannya di sepanjang hidupku dengan segala kemampuan yang kumiliki. Karena hanya dirinya kini yang bisa menjadi sumber kekuatanku setelah kepergianmu.
      Hukum kematian manusia masih terus berlaku
     Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi
     Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita
     Dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita
     Ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau dan gelisah
     Sedang engkau mengharap selalu damai nan tentram
     Wahai orang yang selalu ingin melawan tabiat
     Engkau mengharap percikan api dari genangan air
     Kalau engkau berharap hal yang mustahil terwujud
     Engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam
     Kehidupan adalah tidur yang panjang
     Dan kematian adalah kehidupan
     Maka manusia diantara keduanya
     Dalam impian dan khayalan
     Maka selesaikanlah tugas dengan segera
     Niscaya umur-umurmu
     Akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah
     Yang akan ditanyakan
     Sigaplah dalam berbuat baik
     Laksana kuda yang masih muda
     Kuasailah waktu
     Karena ia akan menjadi sumber petaka
     Dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda
     Karena ia akan selalu lari meninggalkan Anda
     Sebagai musuh yang menakutkan
     Dan karena zaman
     Memang diciptakan untuk musuh orang-orang bertaqwa
*Sumber La Tahzan, DR.Aidh al Qarni.
***
         Tiba-tiba sebuah suara ketukan dipintu membuyarkan lamunanku yang panjang sejak aku berada dalam ruang kerjamu sedari tadi.
         “Mas, Mas Ahmad...“ suara Mutia adikku memanggil dari arah depan pintu masih sesekali terdengar suara ketukan di sana.
         Segera kuhapus sisa-sisa airmata yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir, membasahi kedua pipiku sebelum beranjak menuju ke arah pintu untuk menemui Mutia.
         “Kenapa Mut?“ tanyaku kemudian dengan suara yang terdengar serak setelah membuka pintu, dan mendapati Mutia berdiri di sana dengan balutan busana muslimahnya dengan kerudung putih menutup kepalanya.
          Penampilan itu sangat berbeda dengan keseharian adikku yang masih belum mendapatkan hidayah untuk memakai hijab di kehidupan sehari-harinya seperti dirimu bidadariku.
          “Mas habis nangis lagi ya? Mas Ahmad jangan larut dalam kesedihan terus dong, kasihan dedek Zahra kalau lihat Abinya sedih terus, dan Mba Nissa disana juga pasti tidak mau lihat Mas seperti ini. 
         Mas harus ikhlas biar Mba Nissa tenang disana, kalau Mas sedih terus pasti Mba Nissa juga sedih disana” ucap adikku lagi yang mencoba membuatku kuat. Aku sambut dengan anggukan kepala dan mencoba menyunggingkan sebuah senyuman kearahnya.
         “Oh iya, Mutia ke sini disuruh Papa panggil Mas, karena Ustadz Mahmud beserta rombongan keluarga Mba Nissa sudah pada datang dan acaranya sudah mau dimulai...” lanjut Mutia menjelaskan.
         “Iya dek, Mas mau ambil wudhu dulu nanti Mas menyusul kebawah“ balasku kemudian karena  memang ruang kerjamu yang bersebelahan dengan kamar  tidur berada di lantai dua rumah ini.
         Sesampainya di lantai dasar rumah tampak para kerabat, tetangga dan juga para undangan sudah berkumpul memenuhi ruang tengah, ruang tamu dan juga teras rumah yang sebelumnya telah diberi tenda.
         Yah...malam ini kami sekeluarga memang mengadakan acara pembacaan do’a dan tahlil untuk mengenangmu dirimu bidadariku. Sudah empat puluh hari berlalu, kau pergi meninggalkan kami semua orang-orang yang sangat mencintai dan menyayangimu.
         Tidak berapa lama setelah aku mengambil tempat duduk di samping Ustadz Mahmud, disana juga ada Papa dan Ayah mertuaku.
          Lalu kami pun mulai terlarut dalam kumandang dzikir dan do’a yang tiada henti-hentinya terkirim untukmu, kekasihku yang kini telah berada di pangkuan Kekasih Yang ter-Maha Kasih. Semoga segala amal dan ibadahmu selama di dunia ini menjadikanmu bidadari sejati di Surga-Nya. Aamiin.
           ‘Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya‘. QS.7 : 34

***

Kamis, 18 Januari 2018

ARINI'S WEDDING - Ree Suwandi


SEKUEL DARI JODOH ARINI

     Bila dua insan telah digariskan takdir untuk bersama...

     Maka sebanyak apapun rintangan yang menghalangi...

     Sebesar apapun perbedaan diantara mereka...

     Sekuat apapun usaha mereka untuk menghindar...

     Pasti!!!

     Mereka akan tetap bertemu...

     Seolah ada magnet yang saling menarik mereka...

     Seakan ada hal yang mendekatkan keduanya...

     Untuk akhirnya bersatu....

JODOH ARINI - Ree Suwandi


SINOPSIS

     Arini Puspitasari, wanita lajang di usia tigapuluh tahun yang mengalami dilema dalam menemukan pasangan hidup. Sebagai workaholic sejati yang terkenal sangat mandiri, Arini masih merasa nyaman dengan kesendiriannya.
     Namun ancaman sang bunda yang berencana mencarikan jodoh untuknya bila Arini tidak juga mengenalkan sosok kekasih dihadapannya. Langsung membuat Arini sibuk memutar otak untuk mencari kandidat lelaki yang bersedia membantunya meredam niatan bundanya.
     Selain itu sahabatnya- Amel pun sibuk untuk menjodohkan dia dengan beberapa pria kenalannya yang membuat Arini semakin tertekan. Sebab ternyata Amel telah bersekongkol dengan sang nenek yang ingin melihat Arini segera melepaskan masa lajangnya.
     Ditengah kemelut hatinya, Arini dipertemukan dengan seorang pemuda baik dan menarik yang menjadi asisten barunya di kantor. Ade Irawan, perantau fresh graduate asal kota pelajar yang terpaut usia tujuh tahun lebih muda darinya. Dan Arini berencana meminta bantuan Ade untuk mengatasai permasalahan yang tengah dihadapinya itu.
     Akhirnya hubungan Arini dengan Ade pun tidak hanya sekedar sebagai atasan dan bawahan, melainkan meningkat menjadi teman yang saling membantu dan mendukung. Sampai akhirnya kebersamaan mereka itu telah menumbuhkan tunas-tunas cinta dihati Ade untuk atasannya yang tampak mempesona dan pintar dimatanya.
     Ade yang awalnya hanya berniat menolong Arini, ternyata telah memendam perasaan yang begitu dalam pada wanita itu. Hingga ia berusaha untuk menaklukan hati atasannya tersebut dengan berbagai macam cara, sebab Ade ingin menjadikan Arini kekasihnya secara nyata. Bukan hanya sekedar hubungan sandiwara seperti yang sedang mereka jalani saat itu.
     Namun ditengah usahanya itu, Ade dipertemukan dengan sosok lelaki yang menjadi pesaingnya dalam mendapatkan hati Arini. Kemunculan Banyu Anggara yang merupakan cinta pertama Arini membuat pemuda itu sempat dilanda cemburu.
     Terlebih saat menghetahui bahwa lelaki yang baru pulang dari luar negeri itu kembali membawa cinta lamanya untuk Arini. Banyu pun berniat untuk segera melamar Arini jika wanita itu kembali memberinya kesempatan.
     Lantas akankah Ade menyerah kalah dan memilih merelakan Arini untuk bersama pria di masa lalunya itu?
     Tapi apakah memang benar Arini masih memiliki perasaan yang sama terhadap Banyu?
     Temukan jawaban tentang siapakah lelaki yang akan menjadi Jodoh Arini dalam novel ini...

***

Selasa, 16 Januari 2018

CADAR AISHA - Ree Suwandi


SINOPSIS   

     Kehidupan rumah tangga Aisha dan Rasyid yang semula damai tiba-tiba terguncang prahara. Hal itu disebabkan munculnya niatan Aisha untuk mengenakan cadar.
     Rasyid bukan melarang istrinya yang ingin lebih menjaga dirinya dari pandangan lawan jenis, tapi sebagai seorang direktur perusahaan yang acap kali membawa pasangan di acara formal kantor sedikit keberatan dengan keputusan istrinya itu.
     Hubungan pasangan ini sontak berjarak sebab permasalahan tersebut, hingga membawa dampak buruk pada Adam dan Adim- kedua putra kembar mereka yang menjadi korban perang dingin orangtuanya.
     Lalu ditengah konflik internal itu, Rasyid menjadi dekat dengan sosok wanita bernama Nur Aini- rekan bisnis yang belakangan menjadi teman curhatnya. Rasyid lebih sering menghabiskan waktu bersama Nur selepas jam kantor daripada bercengkrama dengan keluarganya dirumah.
     Hingga kebersamaan mereka mulai menumbuhkan benih pengkhianatan pada pasangan masing-masing.
     Dan seperti pepatah ‘bagai menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga’ skandal Rasyid dengan Nur akhirnya diketahui oleh Yusuf-suami Nur. Kemudian Yusuf pun memberitahukan perihal tersebut pada Aisha, sampai keduanya benar-benar menangkap basah perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan mereka masing-masing.
     Aisha tentu merasa terkhianati dan sakit hati, iapun lalu memutuskan untuk menenangkan diri di rumah kedua orangtuanya. Jarak yang semakin jauh dengan sosok Aisha membuat Rasyid menyadari kesalahannya.
     Kedua insan tersebut saling mengintropeksi diri, mereka sama-sama mengambil pelajaran dari kekhilafan masing-masing.
     Akankah rumah tangga Aisha dan Rasyid dapat terselamatkan dari kehancuran?
     Mungkinkah keretakan hubungan keduanya dapat dipersatukan kembali?
     Dan bagaimana kelanjutan niat Aisha untuk mengenakan cadar?
     Novel ini yang akan menjawabnya...

***

THE RIGHT MAN IN THE RIGHT TIME - Ree Suwandi


PROLOG


Tiga undangan walimah kuterima hari ini, dari teman satu organisasi, rekan kerja di kantor, dan dari pernghuni apartemen sebelah. Sabtu dan Ahad ini sudah dapat dipastikan aku akan kembali menjadi bulan-bulanan kenalanku di acara tersebut.
Mereka selalu saja menanyakan hal yang sama padaku, setiap aku menghadiri acara semacam itu,”KAPAN MENYUSUL?”.
Sedikit malu memang, karena sampai saat ini aku masih bertahan menyandang status ‘The Jones’. Meskipun sudah beberapa kali aku mencoba untuk menemukan sosok pasangan yang akan kujadikan teman sepanjang hidupku kelak.
Tapi apa daya, semua yang kulakukan itu hanyalah sebatas usaha atau ikhtiar. Namun yang menentukan hasilnya tetaplah Sang Pemilik Takdir, dan sampai detik ini aku masih belum juga diketemukan dengan pemilik tulang rusuk yang ada pada diriku.
Dengan seiring berjalannya waktu, niat untuk terus berusaha perlahan mulai memudar, dan parahnya keinginan untuk menikah pun sedikit mulai terlupakan dalam benakku. Akan tetapi setelah beberapa bulan belakangan ini, aku selalu mendapatkan undangan walimah. Jadi sepertinya aku harus mulai lagi memasukan harapan untuk dapat segera bertemu dengan calon imamku ke dalam list do’a yang akan kupanjatkan di sepertiga malam-malamku.
Mencoba menjadi pribadi yang kuat, sabar dan selalu ikhlas dalam masa penantian ini. Juga berusaha untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan memperkaya khasanah ilmu tentangnya, agar kelak benar-benar siap jika Allah Ta’alla berkenan mempertemukanku dengan pangeran hati. *Fizria Syahputri.


***

SATU

BAD MOOD MODE-ON


“Mba Zia, besok dateng ke resepsinya Wulan sama siapa?” Sinta- rekan satu devisi di kantor itu bertanya, saat kami sedang menikmati makan siang di kantin bersama dua rekan lainnya.
Salah satu karyawan ditempatku bekerja yang bernama Wulan memang Ahad esok akan mengadakan acara walimah, dan tentu saja kami semua sebagai sesama rekan kerjanya turut diundang pada acara tersebut.
“Kenapa memang Sin?” balasku.
“Kalau Mba nggak keberatan aku mau ngajak Mba pergi bareng,” sahut Sinta.
“Kenapa nggak pergi sama suamimu seperti biasanya Sin?” kali ini Mila- rekanku lainnya yang menyahut. Sinta memang sudah menikah setahun yang lalu, meski ia jauh lebih muda empat tahun dariku. Sedangkan Mila usianya setahun lebih tua dariku, ia seorang single parent setelah perceraiannya dua tahun lalu.
“Suami aku lagi di luar kota Mba Mila, jum’at depan baru pulang” lanjut Sinta menjelaskan,
“Iya boleh kok, insya Allah besok aku jemput kamu” ucapku seraya menyendokkan makanan ke dalam mulutku.
“Kalian jam berapa kesananya? Janjian yuk, biar bisa bareng ketemuan disananya” Mba Yuni, manager pemasaran atasan kami ikut bersuara.
Meski beliau memiliki jabatan tinggi, tapi jika sedang berkumpul begini kami semua akan menjadi akrab, layaknya teman. Usia beliau baru tigapuluhan, jadi kami semua masih terlihat seumuran.
“Setelah shalat Dzuhur gimana, Mba?” usul Sinta.
“Undangannya dari jam sebelas siang sampai jam enam sore kan?” tanya Mba Mila.
“Iya Mba, gimana? Hitung-hitung jam makan siang Mba ke tempat acaranya” Sinta meminta persetujuan usulannya tadi.
“Ok ba’da Dzuhur aku kerumahmu, Sin” sahutku.
“Ok deh, jadi habis Dzuhur kita kesana, tapi diusahakan jam satu sudah ada disana ya?” Mba Yuni kembali menimpali.
“Iya Mba,” sahutku dan Mila bersamaan, sedangkan Sinta hanya mengangguk tanda setuju.
“Jadi Mba Zia nanti sebelum jemput aku bisa BBM-an dulu, biar aku bisa siap-siap sebelumnya,” ucapnya kemudian.
“Iya insya Allah,” balasku singkat setelah menelan makanan yang ada di mulutku.
“Jangan sampe nggak dijemput lho Mba, aku kan nggak bisa nyetir, biar dirumah ada mobil punya suami, dan lagi aku males banget ke undangan naik taksi, sendirian lagi” tambahnya.
“Iya Sin, kamu tenang aja,”.
“Bulan ini banyak banget yang nikahan ya?” Mba Mila melanjutkan obrolan disela waktu menikmati santap siang kami.
“Iya Mba, hampir setiap bulan belakangan ini aku juga selalu mendapat undangan walimah, mungkin lagi musimnya...” jawab Sinta. Sebenarnya topik pembicaraan ini membuatku sedikit kurang nyaman, dan tentu saja alasannya sudah jelas.
“Memang cuma di Indonesia deh, negara yang punya musim paling banyak diantara negara-negara lain di dunia,” lanjut Mba Mila.
“Iya Mba, ada musim duren, musim rambutan, musim banjir, musim kawin, bahkan ada juga musim cerai, seperti artis-artis kita..” celetuk Sinta yang disambut senyuman oleh semua yang ada dimeja kami, termasuk aku.
“Di meja ini masih ada satu jomblo ya, kapan nih undangannya?” Mba Yuni mulai menyindirku jika topik tentang masalah perkawinan sudah terangkat ke permukaan.
“Belum ketemu jodohnya Mba,” jawabku klise.
“Zia mau aku carikan?” Mba Mila ikut mengodaku.
“Kalau aku terserah bagaimana keputusan Sang Pemilik Takdir sih? Masalah jodoh kan sudah ada yang mengatur,” jawabku lagi dengan nafsu makan yang tiba-tiba menghilang.
“Atau Mba mau aku kenalin lagi dengan teman suamiku? Bukankah jodoh juga musti dicari Mba?” lanjut Sinta lagi-lagi membuat moodku semakin memburuk. Wanita itu memang pernah sekali mencoba mengenalkanku dengan sahabat suaminya, tapi aku sama sekali tidak berminat. Bukannya aku sombong atau apa, tapi memang aku tidak terlalu suka berbasa basi dengan lawan jenis.
Sejak zaman di sekolah dulu, aku memang sangat membatasi pergaulanku dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki. Karena Abah telah menanamkan pondasi pendidikan agama pada anak-anaknya, agar selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alla.
Jadi aku juga saudaraku yang lainnya sudah mengerti, kami berusaha tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai atau dilarang oleh-Nya. Dan berkhalwat merupakan salah satu perkara yang diharamkan dalam syariat agama kami.
“Mba Zia,” panggilan yang disertai tepukan pelan Sinta dilenganku sedikit mengejutkan. “Mba melamun ya?” lanjutnya.
“Eh sorry Sin, sudah pada selesaikan makannya? Kita balik yuk...” sahutku yang sejenak tadi sempat terbuai oleh lamunan.
“Tapi makanan punya Mba belum habis!”.
Aku beranjak dari tempat dudukku sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku sudah kenyang Sin, yuk langsung balik keatas aja,” ajakku pada mereka semua. Setelah melirik kearah piring-piring lainnya, memang hanya piringku yang isinya masih setengah. Tapi aku sudah benar-benar tidak berselera lagi untuk menghabiskannya.
Setelah melihat aku mulai bangkit, mereka bertiga pun akhirnya ikut mengekor tindakanku. Lalu kami semua menuju ke arah lift yang akan membawa kami kembali ke tempat kerja.
Kantor kami memang terletak di lantai delapan gedung tersebut, sedangkan kantin tempat kami makan siang adanya di lantai dasar. Bangunan perkantorannya sendiri memiliki limabelas lantai, dengan ratusan ruangan dan ditempati oleh beberapa perusahaan yang sengaja menyewanya, seperti halnya perusahaan tempat kami bekerja.
Dan setelah sampai di meja kerjaku, aku merasa sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pekerjaan yaitu memeriksa laporan yang aku tinggalkan sebelum makan siang tadi. Pembicaraan di kantin itu, benar-benar telah membuat aku dalam kondisi bad mood mode-on yang parah.

***

SEBENING BIDADARI

BAB 2: AROMA KOPI DAN KETERTARIKAN   Minggu‑minggu berlalu dengan ritme yang tetap sama bagi Tata: bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuha...